Monthly Archives: Oktober 2012

Hubungan Berat Badan Lahir dengan Terjadinya Ruptur Perineum Spontan pada Persalinan Normal Ibu Primigravida di BPS


KTI SKRIPSI
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN TERJADINYA RUPTUR PERINEUM SPONTAN PADA PERSALINAN NORMAL IBU PRIMIGRAVIDA DI BPS
ABSTRAK

Ruptur perineum menjadi penyebab perdarahan ibu postpartum. Perdarahan postpartum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu di Indonesia. sedangkan ruptur perineum spontan terjadi karena ketegangan pada daerah vagina pada saat melahirkan, beban psikologis mengahadapi proses persalinan dan karena ketidaksesuaian antara jalan lahir dan janinnya. Efek yang ditimbulkan dari ruptur perineum apabila tidak dilakukan penatalaksaan yang benar akan menimbulkan perdarahan, sehingga juga bisa menyebabkan kematian pada ibu post persalinan. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahuai hubungan berat badan lahir dengan terjadinya ruptur perineum spontan pada persalinan normal primigravida di BPS “” Desa Kecamatan Kabupaten .
Desain yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan retrospektif. Populasinya adalah Semua ibu primigravida yang melahirkan di BPS “” pada tanggal 1 Januari sampai 31 Desember yang didapat dari data rekam medik sebanyak 38 ibu. Dengan tehnik sampling jenuh maka sampel ditentukan sebanyak 38 ibu. Hipotesa di uji dengan Chi –kuadrat dengan signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas berat badan lahir anak normal (2500gr-3500gr). Mayoritas ibu tidak mengalami ruptur perineum. Analisis stasistik mendapatkan hasil 2 = 10,6 1 > tabel =5,59 1 yang berarti Ho ditolak artinya ada hubungan antara berat badan lahir dengan terjadinya ruptur perineum di BPS”” Desa Kecamatan Kabupaten. Disarankan kepada bidan untuk memberikan penyuluhan serta menganjurkan ibu untuk melakukan senam hamil agar bisa melenturkan otot-otot dinding perineum sehingga ruptur bisa dihindarkan.
Kata kunci : berat badan bayi lahir, ruptur perineum, persalinan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi, yang dapat hidup didunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. Persalinan sangat di pengaruhi oleh ”3P” yaitu janin (passenger), jalan lahir (passage) dan (tenaga) power dan ”2P” yaitu position dan phsycologi (Manuaba, 2005). Persalinan dengan berat badan janin besar dapat meningkatkan resiko komplikasi kehamilan dan persalinan seperti hipertensi dalam kehamilan, polihidramnion (cairan ketuban berlebih), persalinan lama, persalinan sulit misalkannya karena bahu macet, perdarahan pasca persalinan dan Ruptur perineum (Krisnadi, 2009), selain itu resiko berat badan janin besar pada janin itu sendiri adalah terjadinya patah tulang selangka pada saat persalinan (Partiwi, 2009).
Data inpartu di wilayah Kabupaten berdasarkan laporan di Dinas Kesehatan Kabupaten tahun  sebanyak 7920 dan kejadian Ruptur perineum dari jumlah persalinan normal 248 kasus. Di wilayah Kerja Puskesmas Tarokan mencatat data inpartu 223 pada tahun dan kejadian Ruptur perineum dari 223 persalinan normal mencapai 84 kasus, dimana 1 kasus Ruptur perineum di rujuk ke Rumah Sakit.
Ruptur perineum menjadi penyebab perdarahan ibu postpartum. Perdarahan postpartum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu di Indonesia. Penelitian yang pernah dilakukan Fitariyanti (2007) di BPS Dwi Yuni angka kejadian Ruptur perineum yang dialami ibu primigravida tahun 2007 masih sangat tinggi yaitu sebanyak 41 orang (65%) dari 63 persalinan normal. Sedangkan yang tidak mengalami Ruptur perineum berjumlah 22 orang. Jumlah bayi yang lahir dengan berat badan > 3100 gr yaitu 32 bayi sedangkan yang 3.100 gr yang mengalami Ruptur perineum berjumlah 30 orang dan yang tidak mengalami Ruptur perineum 2 orang. Sedangkan dari 31 orang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan < 3.100 gr yang mengalami Ruptur perineum sebanyak 11 orang dan yang tidak sebanyak 20 orang.
Ruptur perineum dapat terjadi karena adanya robekan spontan maupun episiotomi. Ruptur perineum yang dilakukan dengan episiotomi itu sendiri harus dilakukan atas indikasi antara lain: bayi besar, perineum kaku, persalinan yang kelainan letak, persalinan dengan menggunakan alat baik forceps maupun vacum. Karena apabila episiotomi itu tidak dilakukan atas indikasi dalam keadaan yang tidak perlu dilakukan dengan indikasi di atas, maka menyebabkan peningkatan kejadian dan beratnya kerusakan pada daerah perineum yang lebih berat. Sedangkan luka perineum itu sendiri akan mempunyai dampak tersendiri bagi ibu yaitu gangguan ketidaknyamanan dan perdarahan, sedangkan Ruptur perineum spontan terjadi karena ketegangan pada daerah vagina pada saat melahirkan, juga bisa terjadi karena beban psikologis mengahadapi proses persalinan dan yang lebih penting lagi Ruptur perineum terjadi karena ketidaksesuaian antara jalan lahir dan janinnya, oleh karena efek yang ditimbulkan dari Ruptur perineum sangat kompleks (Partiwi, 2009). Ruptur perineum apabila tidak dilakukan penatalaksaan yang benar akan menimbulkan perdarahan, sehingga juga bisa menyebabkan kematian pada ibu post persalinan.
Dari uraian diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian tentang ” hubungan berat badan lahir dengan terjadinya Ruptur perineum spontan persalinan normal ibu primigravida di BPS “” Desa Kecamatan Kabupaten.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ”Adakah hubungan berat badan lahir dengan terjadinya ruptur perineum spontan pada persalinan normal primigravida di BPS “” Desa Kecamatan Kabupaten ?”

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahuai hubungan berat badan lahir dengan terjadinya ruptur perineum spontan pada persalinan normal primigravida di BPS “” Desa Kecamatan Kabupaten.

1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi berat badan lahir di BPS”” Desa Kecamatan Kabupaten.
1.3.2.2 Mengidentifikasi terjadinya ruptur perineum spontan persalinan normal primigravida di BPS “” Desa Kecamatan Kabupaten
1.3.2.3 Menganalisis hubungan berat badan lahir dengan terjadinya ruptur perineum spontan persalinan normal primigravida di BPS “” Desa Kecamatan Kabupaten

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan referensi bagi institusi pendidikan dalam meningkatkan kemampuan calon-calon bidan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi terjadinya ruptur perineum.
1.4.2 Bagi Tempat Penelitian
Dapat dijadikan dasar dalam meningkatkan kemampuan dalam melakukan pertolongan persalinan, sehingga dapat menekan timbulnya ruptur perineum
1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat di pakai untuk mnyusun rencana asuhan pada ibu hamil dalam hal psikologinya sehingga kecemasan pada saat persalinan bisa ditekan dan akan menekan pula ruptur perineum.

silahkan download KTI SKRIPSI
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN TERJADINYA RUPTUR PERINEUM SPONTAN PADA PERSALINAN NORMAL IBU PRIMIGRAVIDA DI BPS

KLIK DIBAWAH 

Hubungan antara Pengetahuan tentang Risiko Kehamilan Remaja di Luar Nikah dengan Sikap terhadap Hubungan Seksual Pranikah


KTI SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG RISIKO KEHAMILAN REMAJA DI LUAR NIKAH DENGAN SIKAP TERHADAP HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Pernyataan ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stenley Hall bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (Dhamayanti, 2009).
Di Indonesia angka kehamilan remaja di luar nikah sulit diketahui secara pasti, karena kasus ini selalu disembunyikan rapat oleh pelakunya. Namun di Jawa Timur data yang tercatat di klinik kebidanan, biro konsultasi KB menunjukkan bahwa jumlah remaja hamil di luar nikah yang datang minta jasa konsultasi psikologi, perawatan medis untuk kehamilan, maupun yang meminta aborsi semakin meningkat tajam dari tahun ke tahun (BPPKTJT, 2001) . Survey Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1 995/1996) pada remaja belum menikah berusia 13-19 tahun sebanyak 1189 remaja di Jawa Barat dan 922 remaja di Bali ditemukan 7% remaja perempuan di Jawa Barat dan 5% di Bali mengakui pernah hamil. Menurut Ketua Jaringan Peduli Perempuan dan A nak (JPPA) Jaw a Tengah, Widanti (2000) jumlah siswi yang hamil akan terus meningkat, dalam penelitiannya pada sekolah jenjang SMP dan SMA tahun 2000 menunjukkan dalam tiap sekolah rata-rata ditemukan empat hingga tujuh siswa yang hamil, bahkan saat ini kenaikannya 10% h ingga 15%.
Mengapa terjadi kehamilan di luar pernikahan? Salah satu diantaranya adalah sikap itu, ada baiknya remaja mengerti akibat psikologi yang bakal dialami pacarnya jika mereka melakukan hal-hal terlarang itu. Remaja putra harus belajar mengendalikan hormon seksual mereka, sedangkan remaja putri menyadari akibat hubungan seksual dini, termasuk yang terjadi di luar pernikahan. Dengan demikian pengetahuan itu ikut membentengi mereka (Julianto dan Roswitha, 2009).
Tahap perkembangan remaja yang ditandai oleh perkembangan kognitif, perkembangan psikososial, dan perkembangan fisik dapat mempengaruhi salah satu aktivitas seksual remaja yaitu perilaku seks pranikah. Akhir-akhir ini muncul fenomena semakin tingginya tingkat perilaku seks pranikah pada remaja. Tingginya tingkat perilaku seks pranikah pada remaja dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu terjadinya kehamilan di luar nikah (Gemala, 2009).
Berdasarkan data-data diatas, peneliti bermaksud mengadakan penelitian mengenai hubungan antara pengetahuan tentang risiko kehamilan remaja di luar nikah dengan sikap terhadap hubungan seksual pranikah pada siswa SMAN 2 dengan pertimbangan bahwa SMAN 2 merupakan salah satu SMAN favorit di Kabupaten yang terletak di pusat kota serta mudah dijangkau oleh peneliti dimana kualitas input dari aspek kognitif sangat bagus. Akan tetapi, apakah tingginya kualitas aspek kognitif yang dimiliki siswa bisa sejalan dengan tingkat pengetahuan tentang risiko kehamilan remaja di luar nikah. Jadi peneliti tertarik untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa SMAN 2 tentang risiko kehamilan remaja di luar nikah serta bagaimana pengaruhnya terhadap sikap remaja terhadap hubungan seksual pranikah.
Penelitian tentang hubungan seksual pranikah pernah dilakukan sebelumnya, namun sejauh penelusuran penulis yang dilakukan selama ini belum ada yang meneliti tentang hubungan pengetahuan risiko hamil di luar nikah dengan sikap terhadap hubungan seksual pranikah, tetapi ada beberapa p enelitian sebelumnya yang sejenis dengan penelitian ini, yaitu: “Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Penyakit Menular Seksual dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Siswa-Siswi SMAN 3 Surakarta” oleh Sari (2009) dan juga oleh Suhartin (2007) dengan judul “ Perbedaan Sikap tentang Perilaku Seks Pranikah antara Remaja Laki-Laki dan Perempuan di SMAN 2”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah apakah ada hubungan antara pengetahuan tentang risiko kehamilan remaja di luar nikah dengan sikap terhadap hubungan seksual pranikah?

C. Tujuan
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang risiko kehamilan remaja di luar nikah dengan sikap terhadap hubungan seksual pranikah.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui pengetahuan siswa SMAN 2 tentang risiko kehamilan remaja di luar nikah.
b.    Untuk mengetahui bagaimana sikap siswa SMAN 2 terhadap hubungan seksual pranikah.

D. Manfaat
1. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah wawasan siswa tentang risiko kehamilan remaja di luar nikah sehingga siswa menghindari hubungan seksual pranikah.
2.    Bagi institusi sekolah
Hasil penelitian ini diha rapkan dapat memberikan masukan bagi institusi sekolah terutama guru BK (Bimbingan Konseling) untuk memberikan konseling mengenai risiko kehamil an remaja di luar nikah pada siswa sehingga siswa menjauhi hubungan seksual pranikah dan terhindar dari kehamilan remaja diluar nikah.
3.    Bagi profesi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi profesi bidan agar lebih meningkatkan perhatian terhadap upaya konseling yang bermutu serta materi konseling tentang risiko kehamilan remaja di luar nikah yang sangat dibutuhkan remaja agar dapat dipilih sikap yang terbaik bila berhadapan dengan hubungan seksual pranikah.
4.    Bagi peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi sebagai data awal bagi penelitian selanjutnya mengenai hubungan antara pengetahuan risiko kehamilan remaja di luar nikah dengan sikap terhadap hubungan seksual pranikah.

silahkan download KTI SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG RISIKO KEHAMILAN REMAJA DI LUAR NIKAH DENGAN SIKAP TERHADAP HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH

KLIK DIBAWAH 

Hubungan Antara Pendidikan dan Paritas Ibu Bersalin dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSU


KTI SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN DAN PARITAS IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSU

ABSTRAK

Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) pada tahun 1995 hampir semua (98%) dari 5 juta kematian neonatal do Negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari dua pertiga kematian adalah BBLR yaitu berat lahir kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR dan hampir semua terjadi di Negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pendidikan dan paritas ibu bersalin dengan kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.. Diharapkan dari analisis faktor-faktor tersebut dapat dijadikan masukan bagi institusi pelayanan kesehatan dalam meningkatkan mutu pelayanan. Penelitian ini merupakann penelitian menggunakan cross sectional yang dikumpulkan dalam waktu bersamaan dengan menggunakan check list. Uji statistik yang dipakai adalah uji chi-square. Sampel yang diambil menggunakan teknik random sampling dari populasi yang berjumlah 3.139 ibu yang melahirkan. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui variabel independen pendidikan dan paritas dan variabel dependen (BBLR). Data dianalisa dengan analisa univariat yaitu distribusi frekuensi variabel independen dan dependen serta analisa bivariat menggunakan uji statistik chi square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan 355 responden didapatkan responden ibu yang BBLR sebesar 100 (28,2%) responden dan ibu yang melahirkan tidak BBLR sebesar 225 (71,8%) responden sedangkan berdasarkan pendidikan ibu yang pendidikan tinggi sebesar 180 (50,7%) dan pendidikan rendah sebesar 175 (49,3%). Sehingga paritas tinggi sebesar 35,8% dan paritas rendah sebesar 228 (64,2%). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna pendidikan ibu dengan kejadian BBLR dimana nilai p value 0,002 lebih kecil α = 0,05 dan adanya hubungan yang bermakna antara paritas ibu terhadap kejadian BBLR dimana nilai p value = 0,008 lebih kecil dari α = 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa responden yang melahirkan BBLR dari responden yang cara penanggananya lebih baik. Bagi petugas kesehatan agar selalu memberikan penyuluhan mengenai kejadian berat badan lahir rendah, sehingga dapat menggurangi angka kejadian BBLR.
Kata Kunci    : Berat Badan Lahir Rendah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) didefinisikan oleh WHO sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gr .Definisi ini berdasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa bayi lahir dengan berat kurang dari 2500 gram mempunyai kontribusi terhadap kesehatan yang buruk.Menurunkan insiden BBLR hingga sepertiganya menjadi salah satu tujuan utama “ A World Fit For Children” hingga tahun 2010 sesuai deklarasi dan rencana kerja United Nations General Assembly Special Session on Children in 2002. Lebih dari 20 j uta bayi diseluruh dunia (15,5%) dari seluruh kelahiran, merupakan BBLR di Asia adalah 22% (Rahayu,2009).
Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Kematian Bayi (AKB). Angka Kematian Bayi di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi, yaitu tercatat 50 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003, ini memang bukan gambaran yang indah, karena masih terbilang tinggi bila di bandingkan dengan negara – negara di bagian ASEAN, dan penyebab kematian bayi terbanyak adalah karena gangguan perinatal. Dari seluruh kematian perinatal sekitar 2 -27% disebabkan karena BBLR. Sementara itu, prevelensi BBLR di Indonesia saat ini di perkirakan 7 – 14% yaitu sekitar 459.200-900.000 bayi (Depkes RI, 2005).
World Health Organization (WHO) 1979, telah membagi umur kehamilan menjadi tiga kelompok yaitu : 1) Pre-term yaitu kurang dari 37 minggu (259 hari), 2)Term, yaitu mulai 37 minggu sampai 42 minggu atau unur antara 259-293 hari, 3) Post-term, yaitu lebih dari 42 minggu (294 hari) (Manuaba,2007).
Begitu juga menurut perkiraan World Health Organization (WHO) pada tahun 1961 telah mengganti istilah Premature baby dengan low birth weight baby (bayi dengan berat badan lahir rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi premature. Keadaan ini dapat di sebabkan oleh : 1) masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai (masa kehamilan dihitung mulai dari hari pertama haid yang teratur ; 2) bayi small for gestational age (SGA) : bayi yang kurang dari berat badan yang semestinya menurut masa kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan = KMK); 3) kedua-duanya (pernyataan 1 dan 2) (Sarwono,2006).
Bila diperhatikan di Indonesia, berdasarkan Survei Demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, angka kematian neonatal sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup dalam 1 tahun, ada satu neonatus meninggal. Penyebab utama kematian neonatal adalah BBLR sebanyak 29%. Insiden BBLR di Rumah Sakit di Indonesia berkisar 20% (Eka ,2009).

Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan tahun (2008), Angka Kematian Ibu (AKI) di Sumatera Selatan berada pada angka 107 per 100.000 kelahiran hidup. Hampir mencapai target sasaran yang akan dicapai Provinsi Sumatera Selatan pada Indonesia Sehat 2010.
Menurut Data Dinas Kesehatan Kota Palembang, Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2007 yaitu per 1000 kelahiran hidup, pada tahun 2008 4 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2009 sekitar 2 per 1000 kelahiran hidup (Dinkes Kota Palembang, 2010).
Dari data Rumah Sakit Umum Pusat Dr., angka kejadian BBLR pada tahun 2007 adalah 142 kasus BBLR dari 3.337 bayi yang dilahirkan pada tahun 2008 adalah 233 kasus BBLR dari 2439 bayi yang dilahirkan dan pada tahun 2009 sebesar 313 kasus BBLR dari 2.400 bayi yang dilahirkan (Medical Record,2009).
Oleh karena itulah, berdasarkan latar belakang diatas dan dengan adanya data yang ada, Maka penulis ingin melakukan penelitian dengan judul “ Hubungan antara Pendidikan dan Paritas Ibu Bersalin dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr..

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah masih tingginya kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.  Tahun  (Medical Record,).

1.3 Pertanyaan Penelitian
Apakah ada hubungan antara pendidikan dan paritas ibu bersalin
dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Tahun ?

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan dan paritas ibu
bersalin dengan kejadian bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr..
1.4.2 Tujuan Khusus
1.    Diketahuinya hubungan antara pendidikan ibu bersalin dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. tahun.
2.    Diketahuinya hubungan antara paritas ibu bersalin dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi : Ruangan Kebidanan
1.5.1 Bagi Mahasiswa /Peneliti
Penelitian ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan khususnya
tentang Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan sebagai pengalaman proses
belajar dalam bidang Metodologi Penelitian.
1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kepustakaan dan pengetahuan serta untuk meningkatkan mutu pendidikan yang berguna bagi mahasiswa Akademi Kebidanan Budi Mulia Palembang.
1.5.3 Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam program kesehatan reproduksi untuk menurunkan angka kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan perbaikan mutu pelayanan kebidanan.
1.6 Ruang Lingkup
Sasaran penelitian adalah semua bayi yang dilahirkan oleh ibu- ibu dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr..

silahkan download KTI SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN DAN PARITAS IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSU

KLIK DIBAWAH 

Gambaran Pengetahuan Tentang Perawatan Genetalia pada Ibu Nifas di BPS


KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERAWATAN GENETALIA PADA IBU NIFAS DI BPS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Asuhan kebidanan selama periode pascanatal secara tradisional ditentukan oleh kesehatan wanita pascapartum. Pada permulaan abad kedua puluh angka kematian ibu adalah 4/1000 kelahiran, yang sebagian besar disebabkan oleh infeksi nifas (puerperium). Nifas adalah suatu periode sekitar 6 minggu setelah kelahiran bayi yang pada masa ini terjadi perubahan fisiologis kehamilan dan laktasi, dan asuhan pascanatal dipersiapkan untuk merefleksikan hal ini. (Henderson, Christine, 2005).
Kehamilan dan kelahiran dianggap sebagai suatu kejadian fisiologis yang pada sebagian besar wanita berakhir dengan normal tanpa komplikasi. Pada akhir masa nifas, pemulihan persalinan secara umum dianggap telah lengkap. Pandangan ini mungkin terlalu optimis. Bagi banyak wanita, pemulihan adalah sesuatu yang langsung terjadi dan menjadi seorang ibu adalah proses fisiologis yang normal. (Henderson, Christine, 2005).
Masa Nifas merupakan bagian integral dari proses melahirkan, dan harus dimanfaatkan sebagai suatu kesempatan untuk memberikan perawatan pada ibu dan bayinya. Sayangnya, masa tersebut jarang dimanfaatkan untuk hal tersebut itu, walaupun fakta menunjukkan bahwa di masa pasca partum ibu yang meninggal lebih banyak. Walaupun sepsis puerperalis merupakan suatu kondisi yang mengancam nyawa di masa pascanatal. Semua penyebab di masa nifas termasuk infeksi genetalia pada ibu nifas harus didiagnosis dan diobati dengan segera. Hal itu ternyata tidak memerlukan keterampilan/peralatan klinis yang canggih, dan dapat ditangani dengan mudah di tingkat Puskesmas (WHO, 2003).
Kebersihan adalah salah satu tanda dari keadaan hygiene yang baik. Manusia perlu menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri agar sehat, tidak bau, tidak malu, tidak menyebarkan kotoran, atau menularkan kuman penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebersihan badan meliputi kebersihan diri sendiri, seperti mandi, menyikat gigi, mencuci tangan dan memakai pakaian yang bersih. Kebiasaan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan organ – organ seksual/reproduksi, merupakan awal dari usaha menjaga kesehatan kita. Jika ekosistem vagina terjaga seimbang, maka kita akan merasa lebih bersih dan segar dan tentu saja lebih nyaman melakukan aktivitas sehari¬hari.
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan kesejahteraan mereka. Segera setelah ibu cukup kuat untuk berjalan, bantu ibu untuk mandi, mencuci putting susunya pertama kali, kemudian tubuh dan terakhir perineum. Sediakan pakaian dan pembalut yang bersih. Perawatan khusus perineum bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan (Hamilton Mary, 2002).
Berdasarkan data dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 di Kabupaten Nganjuk Terdapat infeksi genetalia pada ibu nifas 205 orang. Data dari BPS di kecamatan Prambon periode Januari 2008 – Juni 2009. Di BPS Nurul dari 120
persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 2 orang (0,016 %). BPS Anis dari 101 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,009%). BPS Emi dari 70 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,014 %). BPS Purwati dari 93 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,010%). BPS Bekti dari 98 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,010%). BPS Suci dari 60 persalinan tidak ada yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas. BPS dari 290 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 5 orang (0,017%). BPS Sri dari 60 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,016%). BPS Christine dari 89 persalinan tidak terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas. BPS Wiwik dari 61 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,016%).
Berdasarkan data di atas di BPS Ny. Keb. Desa Kecamatan Kabupaten terdapat sebanyak 0,0 17 % ibu nifas yang mengalami infeksi genetalia. Ini diketahui pada waktu ibu nifas berkunjung kembali ke BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten Nganjuk sebagaian ibu nifas dengan keluhan masih belum mengetahui cara perawatan genetalia dan takut merawat genetalia pada ibu nifas.
Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti tentang “ Gambaran Pengetahuan tentang perawatan genetalia pada ibu nifas di BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan judul penelitian serta latar belakang yang telah dirumuskan maka perumusan masalah penelitian ini adalah “ Bagaimana gambaran pengetahuan tentang perawatan genetalia pada ibu nifas Di BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten ?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang perawatan genetalia pada ibu nifas di BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten.
1.3.2 Tujuan Khusus
    1.3.2.1    Mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tujuan perawatan genetalia pada ibu nifas.
    1.3.2.2    Mengetahui gambaran pengetahuan ibi nifas tentang tanda-tanda infeksi genetalia pada ibu nifas.
    1.3.2.3    Mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang caraperawatan genetalia pada ibu nifas.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan tentang penelitian perawatan ibu nifas khususnya pengetahuan ibu nifas tentang perawatan genetalia, dan dapat digunakan untuk pedoman asuhan pada ibu nifas.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan acuan dalam pembuatan penelitian bagi peneliti selanjutnya.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan atau bahan tambahan untuk memberikan pengetahuan tentang perawatan genetalia pada ibu nifas.

silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERAWATAN GENETALIA PADA IBU NIFAS DI BPS

KLIK DIBAWAH 

Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Berdasarkan karasteristik ibu di Puskesmas


KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI BERDASARKAN KARASTERISTIK IBU DI PUSKESMAS

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan    Pembangunan    Kesehatan    adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk. Untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut maka diprogramkan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat. Salah satu indikator derajat kesehatan adalah Angka Kematian Bayi (Profil Dinas Kesehatan Kota 2005)
Menurut hasil SDKI 2002/2003 Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia berkisar sekitar 35 per 1000 kelahiran hidup ( Kompas 2005 http://webmail.jpkm-on line.net/scr/login.php). AKB di Indonesia masih terbilang tinggi bila dibandingkan dengan Negara-negara lain dikawasan ASEAN (Kompas 2004. http://hqweb01  .bkkbn.go.id/hqweb/pria/redaksi91.htm). AKB di Malaysia pada tahun 2001 tercatat 6 dan di Singapura hanya 2 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup (catatan sekretariat ASEAN, 2003), di Vietnam menunjukan 30 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2001 ( VII. http://www. Kompas.com. 2004)

Penyebab tingginya AKB disebabkan oleh karena banyak hal yang mana salah satunya adalah dari faktor setatus gizi bayi. Menurut hasil penelitian Khairunniyah (2004), pemberian ASI eksklusif berpengaruh pada kualitas kesehatan bayi. Semakin sedikit jumlah bayi yang mendapat ASI eksklusif, maka kualitas kesehatan bayi dan anak balita akan semakin buruk, karena pemberian makanan pendamping ASI yang tidak benar menyebabkan gangguan pencernaan yang selanjutnya menyebabkan gangguan pertumbuhan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan AKB. Sedangkan hasil penelitian Rulina tahun 2002 kasus Gizi buruk pada balita dari berbagai Propinsi di Indonesia masih tinggi dari 11,7 % gizi buruk tersebut tedapat pada bayi berumur kurang dari 6 bulan. Hal ini tidak perlu terjadi jika ASI diberikan secara baik dan benar , karena menurut penelitian dengan pemberian ASI saja dapat mencukupi kebutuhan gizi selama enam bulan. Berdasarkan data UNICEF hanya 3 % ibu yang memberikan ASI ekslusif dan menurut SDKI 2002 cakupan ASI ekslusif di Indonesia baru mencapai 55 %, sedangkan di Jawa Barat pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah umur 4 bulan mencapai 49% ( Muchtar, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa bayi di Indonesia masih kurang mendapatkan ASI eksklusif (sumber : Media Indonesia Online, 2005). Profil Jawa Barat menunjukkan data bahwa pada tahun 2000 diare merupakan penyebab kernatian terbanyak (16,25%) pada anak balita yang dirawat di rumah sakit, di Puskesmas kejadian diare menempati urutan pertarna dan1 0 besar pola penyakit penderita rawat jalan. Kejadian
diare untuk bayi umur 0-28 hari sebesar 13,9%, umur 29 hari sampai 1.tahun sebesar 13,9% dan untuk umur 1 sampai 4 tahun sebesar 13,10%. Penyebab diare ini bisa berhubungan dengan pemberian makanan padat telalu dini selain pemberian ASI (Prof il Jawa Barat, 2002), maka diperlukan berbagai pengetahuan guna mendorong ibu-ibu untuk sadar dan mau memberikan ASI nya (Utami Roesli, 2005).
Menyusui merupakan proses alamiah dan bagian terpadu dari proses reproduksi. Setiap wanita yang dapat dibuahi dan hamil sampai cukup bulan akan dapat mengeluarkan air susu (Khairunniyah, 2004).
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan paling ideal bagi bayi. Oleh karena itu, pada tahun 2000 pernerintah Indonesia menetapkan target sekurangnya 80% ibu menyusui bayinya secara eksklusif, yaitu ASI tanpa makanan ataupun minuman lainnya sejak lahir sampai bayi berumur 6 bulan. Semula pernerintah Indonesia menganjurkan para ibu menyusui bayinya hingga usia 4 bulan, kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan baru melalui Mentri Kesehatan RI No. 450/Menkes/SK/IV/2004 mengenai pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan dan dianjurkan untuk dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai (Untoro, 2004). Selain itu, kajian WHO pada tahun 1999 menyatakan bahwa lebih dari 3000 penelitian menunjukkan pemberian ASI selarna 6 bulan adalah jangka waktu yang paling optimal untuk pemberian ASI eksklusif. Memperpanjang pemberian ASI eksklusff sampai usia bayi 6 bulan memberi berbagai manfaat bagi bayi, antara lain: (1) menurunkan resiko gizi berlebih, (2) meningkatkan kesehatan di masa kanak-kanak, (3) meningkatkan kekebalan tubuh, (4) menekan resiko alergi, bercak kulit, diare, infeksi saluran nafas, (5) tidak membuat berat badan bayi turun. (www.sahabatnestle. co.id/home/main/tksk/tks/ndnp.asp)
Menurut. Utami Roesli (2004). pemberian ASI secara eksklusif artinya hanya memberi, ASI pada bayi dan bayi tidak mendapat tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, juga tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubuk susu, biskuit, bubur nasi, dan tim.
Menurut Novaria (2000), salah satu pra kondisi yang menyebabkan rendahnya pemberian AS[ eksklusif adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat di bidang kesehatan. Khususnya ibu-ibu yang mempunyai bayi dan tidak menyusui secara eksklusif (www.indosiar.com).
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan kognitif merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang didasari dengan pemahaman yang tepat akan menumbuhkan perilaku baru yang diharapkan, khususnya kemandirian dalam pemberian ASI eksklusif.
Rendahnya hasil cakupan pemberian ASI ekslusif dipengaruhi oleh pengetahuan ibu hamil tentang pemberian ASI eksklusif juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain yang meliputi usia ibu, paritas, pendidikan, dan pekerjaan (Depkes RI, 1994).
Umur mempengaruhi bagaimana ibu menyusui mengambil keputusan dalarn pemberian ASI eksklusif, semakin bertambah umur (tua) maka pengalarnan dan pengetahuan semakin bertambah. (Notoatmodjo, 2003). Selain itu, umur ibu sangat menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara mengasuh dan menyusui bayinya. lbu yang berumur kurang dari 20 tahun masih belum matang dan belum siap da!am hal jasmani dan sosial dalam menghadapi kehamilan, persalinan serta dalam membina bayi yang dilahirkan (Depkes RI, 1994). Sedangkan ibu yang berumur 20-40 tahun, menurut Hurlock (1997) disebut sebagai “masa dewasa” dan disebut juga masa reproduksi, di mana pada masa ini diharapkan orang telah marnpu untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalarn meng hadapi keham ilan, persalinan, nifas dan merawat bayinya nanti.
Dalam pemberian ASI eksklusif, ibu yang Menurut Perinansia (2003), paritas adalah pengalaman pemberian ASI eksklusif, menyusui pada kelahiran anak sebelumnya, kebiasaan menyusui dalarn keluarga serta pengetahuan tentang manfaat ASI berpengaruh terhadap keputusan ibu untuk menyusui atau tidak. Dukungan dokter, bidan/petugas kesehatan lainnya atau kerabat dekat sangat dibutuhkan terutama untuk ibu yang pertama kali hamil.pertama kali hamil pengetahuan terhadap pemberian ASI eksklusif belum berpengalaman dibandingkan dengan ibu yang sudah berpengalaman menyusui anak sebelumnya
Pekerjaan ibu juga diperkirakan dapat mempengaruhi pengetahuan dan kesempatan ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan responden yang bekerja lebih baik bila dibandingkan dengan pengetahuan responden yang tidak bekerja. Semua ini disebabkan karena ibu yang bekerja di luar rumah (sektor formal) memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi, termasuk mendapatkan informasi tentang pemberian ASI eksklusif (Depkes RI 1999). Hasil penelitian Soekirman (1994) mengungkapkan bahwa kemungkinan seorang ibu menyusui bayinya secara eksklusif hingga usia 4 bulan dan diteruskan hingga usia 2 tahun, rata-rata 38% jika ibu bekerja dan angka tersebut naik menjadi 91% jika ibu tidak bekerja.
Tingkat pendidikan ibu yang rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan ibu dalarn menghadapi masalah, terutama dalam pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan ini diperoleh baik secara formal maupun informal. Sedangkan ibu-ibu yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi, umumnya terbuka menerima perubahan atau hal-hal baru guna pemeliharaan kesehatannya (Depkes RI, 1996). Pendidikan juga akan membuat seseorang terdorong untuk ingin tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang diterima akan menjadi pengetahuan (Azwar, 2000).
Semakin banyak ibu tidak memberikan ASI pada bayinya semakin menurun angka pemberian ASI terutama ASI eksklusif. Seperti data status kesehatan masyarakat Kota tahun 2005, ibu yang menyusui bayinya dengan ASI sebanyak 57.974 (65,41%), dan yang diberikan ASI eksklusif dari 0-6 bulan tanpa makanan tambahan sebesar 39,37%. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif di kota masih rendah (Profil Dinkes Kota, 2005).
Sebagai gambaran umum, Puskesmas yang berada di Kota letaknya di Kecamatan Sukajadi, kasus gizi buruk yang ada di wilayah kerja Puskesmas menunjukan angka peningkatan yaitu dari tahun 2003/2004 sebanyak 2 kasus menjadi 9 kasus pada tahun 2005. Data pemberian ASI ekslusif dari bayi 391 hanya 170 orang (43,25%) diberi ASI secara ekslusif, selebihnya 221 (56,7%) tidak diberi ASI secara ekslusif. Sedangkan angka target cakupan ASI ekslusif yang harus dicapai adalah 80 %. Sehingga terdapat kesenjangan 36,75 % (laporan tahunan Puskesmas Tahun 2005). Selain itu, jumlah ibu menyusui yang ada di wilayah Puskesmas cukup banyak dan merupakan potensi yang harus diperhatikan dan diberi penanganan agar ibu menyusui tersebut mau mem- berikan ASI eksklusif pada bayi nya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “Gambaran Pengetahuan lbu Menyusui tentang Pemberian ASI Ekslusif berdasarkan karakteristik ibu di Puskesmas Kota perlode Desember -Januari ”.

B.    Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut di atas, maka peneliti dapat merumuskan masalah : “Masih rendahnya pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian ASI eksklusif yang menyebabkan rendahnya hasil cakupan ASI ekslusif di Puskesmas“

C.    Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pernberian ASI eksklusif berdasarkan karakteristik ibu di Puskesmas Kota periode Desember – Januari .
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu menyusui tentang pernberian ASI ekslusif.
b.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pernberian ASI ekslusif berdasarkan umur.
c.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pern berian ASI eksl usif berdasarkan paritas.

d.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pernberian ASI eksIusif berdasarkan pendidikan
e.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian ASI eksklusif berdasarkan pekerjaan.

D. Manfaat Penelitian
1. Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan sebagai sarana untuk melatih diri melakukan penelitian, serta menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh.

silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI BERDASARKAN KARASTERISTIK IBU DI PUSKESMAS

KLIK DIBAWAH 

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Perawat Tentang Komunikasi Terapeutik di RS


KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TENTANG KOMUNIKASI TERAPEUTIK DI RS
B A B I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metode utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan (Purba, 2003: 1).
Dalam praktek keperawatan, komunikasi adalah suatu alat yang penting untuk membina hubungan therapeutik dan dapat mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan. Lebih jauh, komunikasi sangat penting karena dapat mempengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan. Disisi lain, penyebab sumber ketidakpuasan pasien sering disebabkan karena jeleknya komunikasi yang terjadi dengan pasien. Oleh karena itu pengukuran kepuasan pasien terhadap komunikasi therapeutik perawat akan bermanfaat dalam memonitor dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya untuk meningkatkan pelayanan keperawatan (Purba, 2003: 1).
Kemampuan komunikasi yang baik dari perawat merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam melaksanakan proses keperawatan. Kemampuan komunikasi sangat mempengaruhi kelengkapan data klien. Untuk itu selain perlunya meningkatkan kemampuan komunikasi perawat, kemampuan komunikasi klien juga perlu ditingkatkan. Perawat perlu mengetahu hambatan, kelemahan dan gaya klien dalam berkomunikasi. Perawat perlu memperhatikan budaya yang mempengaruhi kapan dan dimana komunikasi dilakukan, penggunaan bahasa, usia dan perkembangan klien (Mundakir, 2006:7 8).
Komunikasi therapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dalam komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003 : 48).
Dalam pelayanan asuhan keperawatan, komunikasi therapeutik memegang peranan penting untuk membantu klien memecahkan masalahnya. Untuk mewujudkan terlaksananya komunikasi therapeutik secara efektif diperlukan adanya kemauan dan kesadaran diri yang tinggi dari perawat. Perawat harus mampu menciptakan kondisi (keterpercayaan) yang dapat menimbulkan adanya rasa percaya klien terhadap perawat, klien merasa diperhatikan: diterima, merasa aman, nyaman (deskripsi) merasa diikutsertakan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan untuknya (orientasi masalah) pelayanan yang diberikan perawat dirasakan tulus, tidak dengan paksaan (spontanitas) informasi yang dibutuhkan klien harus jelas (kejelasan) klien merasa perawat dapat membantu mengurangi hal-hal yang mengganggu pikirannya dalam menghadapi penyakitnya dan tanpa memandang siapa klien tersebut (persamaan) sehingga klien merasa puas (Purba, 2003: 2).
Kelemahan dalam komunikasi merupakan masalah serius baik bagi perawat maupun klien. Perawat yang enggan berkomunikasi dengan menunjukkan raut wajah yang tegang akan berdampak serius bagi klien. Klien akan merasa tidak nyaman bahkan terancam dengan sikap perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Kondisi ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan pasien. Dalam berkomunikasi dengan pasien, pesan yang disampaikan kadang disalah tafsirkan, terutama ketika menjelaskan tujuan terapi, dan kondisi klien. Seorang perawat yang menyampaikan pesan dengan kata-kata yang tidak dimengerti dan penyampaian yang terlalu cepat akan mempengaruhi penerimaan pasien terhadap pesan yang diberikan (Mundakir, 2006:2)
Berdasarkan data yang diperoleh dari Rekam Medik RS AA, jumlah pasien yang dirawat inap dari bulan Januari sampai Juni tahun adalah 2990 orang sedangkan jumlah perawat yang berijasah D III keperawatan di ruang Zamrud, Ratna Cempaka, Yaspis, Nilam, ICU/ICCU dan ruang Berlian RS AA yaitu berjumlah 64 orang. Dan menurut pengamatan saat peneliti melakukan praktek di RS AA masih ada sebagian perawat yang tidak berkomunikasi dengan baik kepada pasien saat pasien bertanya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Perawat Tentang Komunikasi Terapeutik Di RS AA ”.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana gambaran pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA ?
Bagaimana gambaran sikap perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Diketahuinya gambaran pengetahuan dan sikap perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA .
Tujuan Khusus
Diketahuinya gambaran pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA
Diketahuinya gambaran sikap perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat Untuk RS AA
Sebagai bahan masukan kepada pihak rumah sakit mengenai pengetahuan dan sikap perawat tentang komunikasi terapeutik sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas perawat yang bekerja di RS AA.
Manfaat Bagi Peneliti Sendiri
Sebagai pengalaman nyata dan menambah pengetahuan penulis dalam melaksanakan penelitian.
Manfaat untuk peneliti yang lain
Sebagai masukan dan perbandingan dalam penelitian yang sejenis, serta dapat
pula dijadikan sebagai bahan informasi bagi mereka yang memerlukan. Ruang lingkup penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di RS AA pada bulan Agustus.

silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TENTANG KOMUNIKASI TERAPEUTIK DI RS

KLIK DIBAWAH 

Gambaran Pengetahuan Bidan dalam Pelaksanaan Standar Asuhan Persalinan Normal


KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN STANDAR ASUHAN PERSALINAN NORMAL

ABSTRAK

Asuhan Persalinan Normal (APN) adalah asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi baru lahir serta upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan, hipotermia dan asfeksia bayi baru lahir. Menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 5 85.000 ibu per tahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. AKI hamil dan melahirkan di Indonesia mencapai 307 orang per 100 ribu kelahiran hidup. Tujuan penelitian untuk mengetahui Gambaran pengetahuan bidan dalam pelaksanaan standar Asuhan Persalinan Normal di Kecamatan tahun, Penelitian ini adalah Survei deskriptif dengan memberikan kuesioner trhadap bidan.populasi pengetahuan bidan yang telah mengikuti pelatihan APN berjumlah 30 Bidan mengikuti variabel dependen Pengetahuan bidan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan dan variabel independen yaitu pengetahuan bidan meliputi standar Obat,standar alat,dan standar tempat.Analisis data secara analisis univariat. Hasil Penelitian ini menunjukan dari 30 responden pengetahuan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan yang sesuai dengan 58 langkah APN yang tinggi diperoleh 80%, pada pengetahuan bidan dalam standar obat terdapat 63,3%,100% pengetahuan bidan dalam standar Alat,dan terdapat 100% bidan mengetahui standar Tempat.Disarankan Kepada tenaga kesehatan Khususnya Bidan diharapkan tetap meningkatkan pengetahuan bidan terhadap Standarisasi yang telah ditetapkan dalam Asuhan Persalinan Normal .
Kata Kunci    : Pengetahuan Bidan, Asuhan Persalinan Normal, APN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di negara berkembang, disebabkan oleh pendarahan, pasca persalinan eklamsia, sepsis dan komplikasi keguguran. Menurut Word Health Organization ( WHO ) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia Selatan, wanita berkemungkinan 1:8 meninggal akibat kehamilan atau persalinan selama kehidupan, sedangkan Amerika Utara hanya 1 : 6.366 lebih dari 50 % kematian di negara berkembang. ( Saifudin,2006)
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) tahun 2001, yakni 90 % kematian ibu dan angka kematian bayi pun di akibatkan komplikasi kehamilan atau persalinan.( dr.Nugroho kumpono,2009 )
Asuhan Persalinan Normal yang dapat diketahui bahwa asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir serta upaya pencegahan komplikasi teruta pendarahan pasca persalinan, Hipotermia dan Asfeksia bayi baru lahir,sehingga mengurangi angka kematian ibu yang bertujuan menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi bayi dan ibunya. melalui upaya dan keamanan dan berkualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (Optimal) sehingga seharusnya setiap tenaga kesehatan wajib menerapkannya.(Revisi APN, 2008 )
Selain itu seorang bidan juga sangat penting mengetahui tentang pengertian pengetahuan. menurut wikipedia bahasa indonesia pengertian pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari seseorang, pengetahuan lebih menekankan pengamatan dan pengalaman seorang bidan tersebut.pengetahuan juga berkaitan sekali dengan pendidikan yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang.(Wikipedia,2008 )
Pada Survei demografi kesehatan Indonesia ( SDKI ) 2002/2003, Angka kematian ibu ( AKI ) di Indonesia adalah 307/100.00 Kelahiran hidup. (JNPK-KR,2008)
Di pada tahun 2007 AKI 11/29.175 atau 38/100.000 kelahiran hidup. (Dinkes Kota,2008 ) jarak yang diinginkan yaitu 265 dan 248/100.000 kelahiran pada tahun 2006/2007 walaupun intervensi secara global menyebutkan bahwa perjalanan menuju target MDG 2015 masih diluar jalurnya.namun telah disepakati bahwa cakupan pelayanan tenaga kesehatan terlatih adalah kunci dari perbaikan pada status kesehatan ibu (JNPK-KR, 2008).
Bidan sebagai ujung tombak pelayanan maternal dam perinternal, profesi bidan begitu dekat dengan masyarakat yang sewaktu – waktu memerlukan pertolongan. Bersadasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul penelitian tentang ”Gambaran Pengetahuan bidan dalam Pelaksanaan Standar Asuhan Persalinan Normal (APN) di Kecamatan”.

1.2 Rumusan masalah
Makin tingginya angka kematian ibu, WHO memperkirakan lebih dari 5 85.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil, atau bersalin.

1.3 Pertanyaan peneliti
Bagaimana gambaran pengetahuan bidan dalam pelaksanaan Standar APN dikecamatan ?

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan bidan dalam Pelaksanaan Standar APN di Kecamatan.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Diketahuinya Gambaran pengetahuan Bidan dalam standar obat dengan pelaksanaan Asuhan Persalinan Normal Standar oleh Bidan di wilayah kerja Ikatan Bidan Indonesia Ranting

2.    Diketahuinya Gambaran pengetahuan Bidan dalam standar alat dengan pelaksanaan Asuhan Persalinan Normal Standar oleh Bidan di wilayah kerja Bidan Indonesia Ranting
3.    Dikketahuinya Gambaran pengetahuan dalam standar tempat dengan pelaksanaan Asuhan Persalinan Normal Standar oleh Bidan di wilayah kerja Bidan Indonesia Ranting

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Bidan
Hasil penelitian ini dapat di manfaatkan sebagai masukan dalam rangka meningkatkan pelayanan Kebidanan atau Asuhan Persalinan Normal Bidan terhadap klien atau pasien.
1.5.2 Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan informasi atau refrensi untuk bekal peserta didik yang dapat diperoleh di Perpustakaan Akademi Kebidanan
1.5.3 Bagi Peneliti
Agar kami dapat mengetahui pentingnya wawasan tentang Asuhan Persalinan Normal, terutama mengenai dampak negatif pada bidan yang belum melakukan pertolongan dengan Standar Asuhan Persalinan Normal serta sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Ahli Madya Kebidanan di Akademi Kebidanan
1.6 Ruang lingkup
Penelitian ini dapat mengetahui Gambaran pengetahuan bidan dalam pelaksanaan standar Asuhan Persalinan Normal ( APN ) di Kecamatan

silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN STANDAR ASUHAN PERSALINAN NORMAL

KLIK DIBAWAH 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 252 pengikut lainnya.