Monthly Archives: Oktober 2012

Gambaran Pengetahuan Tentang Perawatan Genetalia pada Ibu Nifas di BPS


KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERAWATAN GENETALIA PADA IBU NIFAS DI BPS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Asuhan kebidanan selama periode pascanatal secara tradisional ditentukan oleh kesehatan wanita pascapartum. Pada permulaan abad kedua puluh angka kematian ibu adalah 4/1000 kelahiran, yang sebagian besar disebabkan oleh infeksi nifas (puerperium). Nifas adalah suatu periode sekitar 6 minggu setelah kelahiran bayi yang pada masa ini terjadi perubahan fisiologis kehamilan dan laktasi, dan asuhan pascanatal dipersiapkan untuk merefleksikan hal ini. (Henderson, Christine, 2005).
Kehamilan dan kelahiran dianggap sebagai suatu kejadian fisiologis yang pada sebagian besar wanita berakhir dengan normal tanpa komplikasi. Pada akhir masa nifas, pemulihan persalinan secara umum dianggap telah lengkap. Pandangan ini mungkin terlalu optimis. Bagi banyak wanita, pemulihan adalah sesuatu yang langsung terjadi dan menjadi seorang ibu adalah proses fisiologis yang normal. (Henderson, Christine, 2005).
Masa Nifas merupakan bagian integral dari proses melahirkan, dan harus dimanfaatkan sebagai suatu kesempatan untuk memberikan perawatan pada ibu dan bayinya. Sayangnya, masa tersebut jarang dimanfaatkan untuk hal tersebut itu, walaupun fakta menunjukkan bahwa di masa pasca partum ibu yang meninggal lebih banyak. Walaupun sepsis puerperalis merupakan suatu kondisi yang mengancam nyawa di masa pascanatal. Semua penyebab di masa nifas termasuk infeksi genetalia pada ibu nifas harus didiagnosis dan diobati dengan segera. Hal itu ternyata tidak memerlukan keterampilan/peralatan klinis yang canggih, dan dapat ditangani dengan mudah di tingkat Puskesmas (WHO, 2003).
Kebersihan adalah salah satu tanda dari keadaan hygiene yang baik. Manusia perlu menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri agar sehat, tidak bau, tidak malu, tidak menyebarkan kotoran, atau menularkan kuman penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebersihan badan meliputi kebersihan diri sendiri, seperti mandi, menyikat gigi, mencuci tangan dan memakai pakaian yang bersih. Kebiasaan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan organ – organ seksual/reproduksi, merupakan awal dari usaha menjaga kesehatan kita. Jika ekosistem vagina terjaga seimbang, maka kita akan merasa lebih bersih dan segar dan tentu saja lebih nyaman melakukan aktivitas sehari¬hari.
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan kesejahteraan mereka. Segera setelah ibu cukup kuat untuk berjalan, bantu ibu untuk mandi, mencuci putting susunya pertama kali, kemudian tubuh dan terakhir perineum. Sediakan pakaian dan pembalut yang bersih. Perawatan khusus perineum bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan (Hamilton Mary, 2002).
Berdasarkan data dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 di Kabupaten Nganjuk Terdapat infeksi genetalia pada ibu nifas 205 orang. Data dari BPS di kecamatan Prambon periode Januari 2008 – Juni 2009. Di BPS Nurul dari 120
persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 2 orang (0,016 %). BPS Anis dari 101 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,009%). BPS Emi dari 70 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,014 %). BPS Purwati dari 93 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,010%). BPS Bekti dari 98 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,010%). BPS Suci dari 60 persalinan tidak ada yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas. BPS dari 290 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 5 orang (0,017%). BPS Sri dari 60 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,016%). BPS Christine dari 89 persalinan tidak terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas. BPS Wiwik dari 61 persalinan yang terjadi infeksi genetalia pada ibu nifas 1 orang (0,016%).
Berdasarkan data di atas di BPS Ny. Keb. Desa Kecamatan Kabupaten terdapat sebanyak 0,0 17 % ibu nifas yang mengalami infeksi genetalia. Ini diketahui pada waktu ibu nifas berkunjung kembali ke BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten Nganjuk sebagaian ibu nifas dengan keluhan masih belum mengetahui cara perawatan genetalia dan takut merawat genetalia pada ibu nifas.
Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti tentang “ Gambaran Pengetahuan tentang perawatan genetalia pada ibu nifas di BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan judul penelitian serta latar belakang yang telah dirumuskan maka perumusan masalah penelitian ini adalah “ Bagaimana gambaran pengetahuan tentang perawatan genetalia pada ibu nifas Di BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten ?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang perawatan genetalia pada ibu nifas di BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten.
1.3.2 Tujuan Khusus
    1.3.2.1    Mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tujuan perawatan genetalia pada ibu nifas.
    1.3.2.2    Mengetahui gambaran pengetahuan ibi nifas tentang tanda-tanda infeksi genetalia pada ibu nifas.
    1.3.2.3    Mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang caraperawatan genetalia pada ibu nifas.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan tentang penelitian perawatan ibu nifas khususnya pengetahuan ibu nifas tentang perawatan genetalia, dan dapat digunakan untuk pedoman asuhan pada ibu nifas.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan acuan dalam pembuatan penelitian bagi peneliti selanjutnya.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan atau bahan tambahan untuk memberikan pengetahuan tentang perawatan genetalia pada ibu nifas.

silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERAWATAN GENETALIA PADA IBU NIFAS DI BPS

KLIK DIBAWAH 

Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Berdasarkan karasteristik ibu di Puskesmas


KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI BERDASARKAN KARASTERISTIK IBU DI PUSKESMAS

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan    Pembangunan    Kesehatan    adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk. Untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut maka diprogramkan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat. Salah satu indikator derajat kesehatan adalah Angka Kematian Bayi (Profil Dinas Kesehatan Kota 2005)
Menurut hasil SDKI 2002/2003 Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia berkisar sekitar 35 per 1000 kelahiran hidup ( Kompas 2005 http://webmail.jpkm-on line.net/scr/login.php). AKB di Indonesia masih terbilang tinggi bila dibandingkan dengan Negara-negara lain dikawasan ASEAN (Kompas 2004. http://hqweb01  .bkkbn.go.id/hqweb/pria/redaksi91.htm). AKB di Malaysia pada tahun 2001 tercatat 6 dan di Singapura hanya 2 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup (catatan sekretariat ASEAN, 2003), di Vietnam menunjukan 30 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2001 ( VII. http://www. Kompas.com. 2004)

Penyebab tingginya AKB disebabkan oleh karena banyak hal yang mana salah satunya adalah dari faktor setatus gizi bayi. Menurut hasil penelitian Khairunniyah (2004), pemberian ASI eksklusif berpengaruh pada kualitas kesehatan bayi. Semakin sedikit jumlah bayi yang mendapat ASI eksklusif, maka kualitas kesehatan bayi dan anak balita akan semakin buruk, karena pemberian makanan pendamping ASI yang tidak benar menyebabkan gangguan pencernaan yang selanjutnya menyebabkan gangguan pertumbuhan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan AKB. Sedangkan hasil penelitian Rulina tahun 2002 kasus Gizi buruk pada balita dari berbagai Propinsi di Indonesia masih tinggi dari 11,7 % gizi buruk tersebut tedapat pada bayi berumur kurang dari 6 bulan. Hal ini tidak perlu terjadi jika ASI diberikan secara baik dan benar , karena menurut penelitian dengan pemberian ASI saja dapat mencukupi kebutuhan gizi selama enam bulan. Berdasarkan data UNICEF hanya 3 % ibu yang memberikan ASI ekslusif dan menurut SDKI 2002 cakupan ASI ekslusif di Indonesia baru mencapai 55 %, sedangkan di Jawa Barat pemberian ASI ekslusif pada bayi dibawah umur 4 bulan mencapai 49% ( Muchtar, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa bayi di Indonesia masih kurang mendapatkan ASI eksklusif (sumber : Media Indonesia Online, 2005). Profil Jawa Barat menunjukkan data bahwa pada tahun 2000 diare merupakan penyebab kernatian terbanyak (16,25%) pada anak balita yang dirawat di rumah sakit, di Puskesmas kejadian diare menempati urutan pertarna dan1 0 besar pola penyakit penderita rawat jalan. Kejadian
diare untuk bayi umur 0-28 hari sebesar 13,9%, umur 29 hari sampai 1.tahun sebesar 13,9% dan untuk umur 1 sampai 4 tahun sebesar 13,10%. Penyebab diare ini bisa berhubungan dengan pemberian makanan padat telalu dini selain pemberian ASI (Prof il Jawa Barat, 2002), maka diperlukan berbagai pengetahuan guna mendorong ibu-ibu untuk sadar dan mau memberikan ASI nya (Utami Roesli, 2005).
Menyusui merupakan proses alamiah dan bagian terpadu dari proses reproduksi. Setiap wanita yang dapat dibuahi dan hamil sampai cukup bulan akan dapat mengeluarkan air susu (Khairunniyah, 2004).
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan paling ideal bagi bayi. Oleh karena itu, pada tahun 2000 pernerintah Indonesia menetapkan target sekurangnya 80% ibu menyusui bayinya secara eksklusif, yaitu ASI tanpa makanan ataupun minuman lainnya sejak lahir sampai bayi berumur 6 bulan. Semula pernerintah Indonesia menganjurkan para ibu menyusui bayinya hingga usia 4 bulan, kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan baru melalui Mentri Kesehatan RI No. 450/Menkes/SK/IV/2004 mengenai pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan dan dianjurkan untuk dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai (Untoro, 2004). Selain itu, kajian WHO pada tahun 1999 menyatakan bahwa lebih dari 3000 penelitian menunjukkan pemberian ASI selarna 6 bulan adalah jangka waktu yang paling optimal untuk pemberian ASI eksklusif. Memperpanjang pemberian ASI eksklusff sampai usia bayi 6 bulan memberi berbagai manfaat bagi bayi, antara lain: (1) menurunkan resiko gizi berlebih, (2) meningkatkan kesehatan di masa kanak-kanak, (3) meningkatkan kekebalan tubuh, (4) menekan resiko alergi, bercak kulit, diare, infeksi saluran nafas, (5) tidak membuat berat badan bayi turun. (www.sahabatnestle. co.id/home/main/tksk/tks/ndnp.asp)
Menurut. Utami Roesli (2004). pemberian ASI secara eksklusif artinya hanya memberi, ASI pada bayi dan bayi tidak mendapat tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, juga tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubuk susu, biskuit, bubur nasi, dan tim.
Menurut Novaria (2000), salah satu pra kondisi yang menyebabkan rendahnya pemberian AS[ eksklusif adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat di bidang kesehatan. Khususnya ibu-ibu yang mempunyai bayi dan tidak menyusui secara eksklusif (www.indosiar.com).
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan kognitif merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang didasari dengan pemahaman yang tepat akan menumbuhkan perilaku baru yang diharapkan, khususnya kemandirian dalam pemberian ASI eksklusif.
Rendahnya hasil cakupan pemberian ASI ekslusif dipengaruhi oleh pengetahuan ibu hamil tentang pemberian ASI eksklusif juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain yang meliputi usia ibu, paritas, pendidikan, dan pekerjaan (Depkes RI, 1994).
Umur mempengaruhi bagaimana ibu menyusui mengambil keputusan dalarn pemberian ASI eksklusif, semakin bertambah umur (tua) maka pengalarnan dan pengetahuan semakin bertambah. (Notoatmodjo, 2003). Selain itu, umur ibu sangat menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara mengasuh dan menyusui bayinya. lbu yang berumur kurang dari 20 tahun masih belum matang dan belum siap da!am hal jasmani dan sosial dalam menghadapi kehamilan, persalinan serta dalam membina bayi yang dilahirkan (Depkes RI, 1994). Sedangkan ibu yang berumur 20-40 tahun, menurut Hurlock (1997) disebut sebagai “masa dewasa” dan disebut juga masa reproduksi, di mana pada masa ini diharapkan orang telah marnpu untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalarn meng hadapi keham ilan, persalinan, nifas dan merawat bayinya nanti.
Dalam pemberian ASI eksklusif, ibu yang Menurut Perinansia (2003), paritas adalah pengalaman pemberian ASI eksklusif, menyusui pada kelahiran anak sebelumnya, kebiasaan menyusui dalarn keluarga serta pengetahuan tentang manfaat ASI berpengaruh terhadap keputusan ibu untuk menyusui atau tidak. Dukungan dokter, bidan/petugas kesehatan lainnya atau kerabat dekat sangat dibutuhkan terutama untuk ibu yang pertama kali hamil.pertama kali hamil pengetahuan terhadap pemberian ASI eksklusif belum berpengalaman dibandingkan dengan ibu yang sudah berpengalaman menyusui anak sebelumnya
Pekerjaan ibu juga diperkirakan dapat mempengaruhi pengetahuan dan kesempatan ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan responden yang bekerja lebih baik bila dibandingkan dengan pengetahuan responden yang tidak bekerja. Semua ini disebabkan karena ibu yang bekerja di luar rumah (sektor formal) memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi, termasuk mendapatkan informasi tentang pemberian ASI eksklusif (Depkes RI 1999). Hasil penelitian Soekirman (1994) mengungkapkan bahwa kemungkinan seorang ibu menyusui bayinya secara eksklusif hingga usia 4 bulan dan diteruskan hingga usia 2 tahun, rata-rata 38% jika ibu bekerja dan angka tersebut naik menjadi 91% jika ibu tidak bekerja.
Tingkat pendidikan ibu yang rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan ibu dalarn menghadapi masalah, terutama dalam pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan ini diperoleh baik secara formal maupun informal. Sedangkan ibu-ibu yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi, umumnya terbuka menerima perubahan atau hal-hal baru guna pemeliharaan kesehatannya (Depkes RI, 1996). Pendidikan juga akan membuat seseorang terdorong untuk ingin tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang diterima akan menjadi pengetahuan (Azwar, 2000).
Semakin banyak ibu tidak memberikan ASI pada bayinya semakin menurun angka pemberian ASI terutama ASI eksklusif. Seperti data status kesehatan masyarakat Kota tahun 2005, ibu yang menyusui bayinya dengan ASI sebanyak 57.974 (65,41%), dan yang diberikan ASI eksklusif dari 0-6 bulan tanpa makanan tambahan sebesar 39,37%. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif di kota masih rendah (Profil Dinkes Kota, 2005).
Sebagai gambaran umum, Puskesmas yang berada di Kota letaknya di Kecamatan Sukajadi, kasus gizi buruk yang ada di wilayah kerja Puskesmas menunjukan angka peningkatan yaitu dari tahun 2003/2004 sebanyak 2 kasus menjadi 9 kasus pada tahun 2005. Data pemberian ASI ekslusif dari bayi 391 hanya 170 orang (43,25%) diberi ASI secara ekslusif, selebihnya 221 (56,7%) tidak diberi ASI secara ekslusif. Sedangkan angka target cakupan ASI ekslusif yang harus dicapai adalah 80 %. Sehingga terdapat kesenjangan 36,75 % (laporan tahunan Puskesmas Tahun 2005). Selain itu, jumlah ibu menyusui yang ada di wilayah Puskesmas cukup banyak dan merupakan potensi yang harus diperhatikan dan diberi penanganan agar ibu menyusui tersebut mau mem- berikan ASI eksklusif pada bayi nya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “Gambaran Pengetahuan lbu Menyusui tentang Pemberian ASI Ekslusif berdasarkan karakteristik ibu di Puskesmas Kota perlode Desember -Januari ”.

B.    Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut di atas, maka peneliti dapat merumuskan masalah : “Masih rendahnya pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian ASI eksklusif yang menyebabkan rendahnya hasil cakupan ASI ekslusif di Puskesmas“

C.    Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pernberian ASI eksklusif berdasarkan karakteristik ibu di Puskesmas Kota periode Desember – Januari .
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu menyusui tentang pernberian ASI ekslusif.
b.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pernberian ASI ekslusif berdasarkan umur.
c.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pern berian ASI eksl usif berdasarkan paritas.

d.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pernberian ASI eksIusif berdasarkan pendidikan
e.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian ASI eksklusif berdasarkan pekerjaan.

D. Manfaat Penelitian
1. Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan sebagai sarana untuk melatih diri melakukan penelitian, serta menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh.

silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI BERDASARKAN KARASTERISTIK IBU DI PUSKESMAS

KLIK DIBAWAH 

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Perawat Tentang Komunikasi Terapeutik di RS


KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TENTANG KOMUNIKASI TERAPEUTIK DI RS
B A B I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metode utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan (Purba, 2003: 1).
Dalam praktek keperawatan, komunikasi adalah suatu alat yang penting untuk membina hubungan therapeutik dan dapat mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan. Lebih jauh, komunikasi sangat penting karena dapat mempengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan. Disisi lain, penyebab sumber ketidakpuasan pasien sering disebabkan karena jeleknya komunikasi yang terjadi dengan pasien. Oleh karena itu pengukuran kepuasan pasien terhadap komunikasi therapeutik perawat akan bermanfaat dalam memonitor dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya untuk meningkatkan pelayanan keperawatan (Purba, 2003: 1).
Kemampuan komunikasi yang baik dari perawat merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam melaksanakan proses keperawatan. Kemampuan komunikasi sangat mempengaruhi kelengkapan data klien. Untuk itu selain perlunya meningkatkan kemampuan komunikasi perawat, kemampuan komunikasi klien juga perlu ditingkatkan. Perawat perlu mengetahu hambatan, kelemahan dan gaya klien dalam berkomunikasi. Perawat perlu memperhatikan budaya yang mempengaruhi kapan dan dimana komunikasi dilakukan, penggunaan bahasa, usia dan perkembangan klien (Mundakir, 2006:7 8).
Komunikasi therapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dalam komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003 : 48).
Dalam pelayanan asuhan keperawatan, komunikasi therapeutik memegang peranan penting untuk membantu klien memecahkan masalahnya. Untuk mewujudkan terlaksananya komunikasi therapeutik secara efektif diperlukan adanya kemauan dan kesadaran diri yang tinggi dari perawat. Perawat harus mampu menciptakan kondisi (keterpercayaan) yang dapat menimbulkan adanya rasa percaya klien terhadap perawat, klien merasa diperhatikan: diterima, merasa aman, nyaman (deskripsi) merasa diikutsertakan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan untuknya (orientasi masalah) pelayanan yang diberikan perawat dirasakan tulus, tidak dengan paksaan (spontanitas) informasi yang dibutuhkan klien harus jelas (kejelasan) klien merasa perawat dapat membantu mengurangi hal-hal yang mengganggu pikirannya dalam menghadapi penyakitnya dan tanpa memandang siapa klien tersebut (persamaan) sehingga klien merasa puas (Purba, 2003: 2).
Kelemahan dalam komunikasi merupakan masalah serius baik bagi perawat maupun klien. Perawat yang enggan berkomunikasi dengan menunjukkan raut wajah yang tegang akan berdampak serius bagi klien. Klien akan merasa tidak nyaman bahkan terancam dengan sikap perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Kondisi ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan pasien. Dalam berkomunikasi dengan pasien, pesan yang disampaikan kadang disalah tafsirkan, terutama ketika menjelaskan tujuan terapi, dan kondisi klien. Seorang perawat yang menyampaikan pesan dengan kata-kata yang tidak dimengerti dan penyampaian yang terlalu cepat akan mempengaruhi penerimaan pasien terhadap pesan yang diberikan (Mundakir, 2006:2)
Berdasarkan data yang diperoleh dari Rekam Medik RS AA, jumlah pasien yang dirawat inap dari bulan Januari sampai Juni tahun adalah 2990 orang sedangkan jumlah perawat yang berijasah D III keperawatan di ruang Zamrud, Ratna Cempaka, Yaspis, Nilam, ICU/ICCU dan ruang Berlian RS AA yaitu berjumlah 64 orang. Dan menurut pengamatan saat peneliti melakukan praktek di RS AA masih ada sebagian perawat yang tidak berkomunikasi dengan baik kepada pasien saat pasien bertanya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Perawat Tentang Komunikasi Terapeutik Di RS AA ”.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana gambaran pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA ?
Bagaimana gambaran sikap perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Diketahuinya gambaran pengetahuan dan sikap perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA .
Tujuan Khusus
Diketahuinya gambaran pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA
Diketahuinya gambaran sikap perawat tentang komunikasi terapeutik di RS AA

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat Untuk RS AA
Sebagai bahan masukan kepada pihak rumah sakit mengenai pengetahuan dan sikap perawat tentang komunikasi terapeutik sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas perawat yang bekerja di RS AA.
Manfaat Bagi Peneliti Sendiri
Sebagai pengalaman nyata dan menambah pengetahuan penulis dalam melaksanakan penelitian.
Manfaat untuk peneliti yang lain
Sebagai masukan dan perbandingan dalam penelitian yang sejenis, serta dapat
pula dijadikan sebagai bahan informasi bagi mereka yang memerlukan. Ruang lingkup penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di RS AA pada bulan Agustus.

silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TENTANG KOMUNIKASI TERAPEUTIK DI RS

KLIK DIBAWAH 

Gambaran Pengetahuan Bidan dalam Pelaksanaan Standar Asuhan Persalinan Normal


KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN STANDAR ASUHAN PERSALINAN NORMAL

ABSTRAK

Asuhan Persalinan Normal (APN) adalah asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi baru lahir serta upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan, hipotermia dan asfeksia bayi baru lahir. Menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 5 85.000 ibu per tahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. AKI hamil dan melahirkan di Indonesia mencapai 307 orang per 100 ribu kelahiran hidup. Tujuan penelitian untuk mengetahui Gambaran pengetahuan bidan dalam pelaksanaan standar Asuhan Persalinan Normal di Kecamatan tahun, Penelitian ini adalah Survei deskriptif dengan memberikan kuesioner trhadap bidan.populasi pengetahuan bidan yang telah mengikuti pelatihan APN berjumlah 30 Bidan mengikuti variabel dependen Pengetahuan bidan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan dan variabel independen yaitu pengetahuan bidan meliputi standar Obat,standar alat,dan standar tempat.Analisis data secara analisis univariat. Hasil Penelitian ini menunjukan dari 30 responden pengetahuan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan yang sesuai dengan 58 langkah APN yang tinggi diperoleh 80%, pada pengetahuan bidan dalam standar obat terdapat 63,3%,100% pengetahuan bidan dalam standar Alat,dan terdapat 100% bidan mengetahui standar Tempat.Disarankan Kepada tenaga kesehatan Khususnya Bidan diharapkan tetap meningkatkan pengetahuan bidan terhadap Standarisasi yang telah ditetapkan dalam Asuhan Persalinan Normal .
Kata Kunci    : Pengetahuan Bidan, Asuhan Persalinan Normal, APN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di negara berkembang, disebabkan oleh pendarahan, pasca persalinan eklamsia, sepsis dan komplikasi keguguran. Menurut Word Health Organization ( WHO ) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia Selatan, wanita berkemungkinan 1:8 meninggal akibat kehamilan atau persalinan selama kehidupan, sedangkan Amerika Utara hanya 1 : 6.366 lebih dari 50 % kematian di negara berkembang. ( Saifudin,2006)
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) tahun 2001, yakni 90 % kematian ibu dan angka kematian bayi pun di akibatkan komplikasi kehamilan atau persalinan.( dr.Nugroho kumpono,2009 )
Asuhan Persalinan Normal yang dapat diketahui bahwa asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir serta upaya pencegahan komplikasi teruta pendarahan pasca persalinan, Hipotermia dan Asfeksia bayi baru lahir,sehingga mengurangi angka kematian ibu yang bertujuan menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi bayi dan ibunya. melalui upaya dan keamanan dan berkualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (Optimal) sehingga seharusnya setiap tenaga kesehatan wajib menerapkannya.(Revisi APN, 2008 )
Selain itu seorang bidan juga sangat penting mengetahui tentang pengertian pengetahuan. menurut wikipedia bahasa indonesia pengertian pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari seseorang, pengetahuan lebih menekankan pengamatan dan pengalaman seorang bidan tersebut.pengetahuan juga berkaitan sekali dengan pendidikan yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang.(Wikipedia,2008 )
Pada Survei demografi kesehatan Indonesia ( SDKI ) 2002/2003, Angka kematian ibu ( AKI ) di Indonesia adalah 307/100.00 Kelahiran hidup. (JNPK-KR,2008)
Di pada tahun 2007 AKI 11/29.175 atau 38/100.000 kelahiran hidup. (Dinkes Kota,2008 ) jarak yang diinginkan yaitu 265 dan 248/100.000 kelahiran pada tahun 2006/2007 walaupun intervensi secara global menyebutkan bahwa perjalanan menuju target MDG 2015 masih diluar jalurnya.namun telah disepakati bahwa cakupan pelayanan tenaga kesehatan terlatih adalah kunci dari perbaikan pada status kesehatan ibu (JNPK-KR, 2008).
Bidan sebagai ujung tombak pelayanan maternal dam perinternal, profesi bidan begitu dekat dengan masyarakat yang sewaktu – waktu memerlukan pertolongan. Bersadasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul penelitian tentang ”Gambaran Pengetahuan bidan dalam Pelaksanaan Standar Asuhan Persalinan Normal (APN) di Kecamatan”.

1.2 Rumusan masalah
Makin tingginya angka kematian ibu, WHO memperkirakan lebih dari 5 85.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil, atau bersalin.

1.3 Pertanyaan peneliti
Bagaimana gambaran pengetahuan bidan dalam pelaksanaan Standar APN dikecamatan ?

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan bidan dalam Pelaksanaan Standar APN di Kecamatan.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Diketahuinya Gambaran pengetahuan Bidan dalam standar obat dengan pelaksanaan Asuhan Persalinan Normal Standar oleh Bidan di wilayah kerja Ikatan Bidan Indonesia Ranting

2.    Diketahuinya Gambaran pengetahuan Bidan dalam standar alat dengan pelaksanaan Asuhan Persalinan Normal Standar oleh Bidan di wilayah kerja Bidan Indonesia Ranting
3.    Dikketahuinya Gambaran pengetahuan dalam standar tempat dengan pelaksanaan Asuhan Persalinan Normal Standar oleh Bidan di wilayah kerja Bidan Indonesia Ranting

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Bidan
Hasil penelitian ini dapat di manfaatkan sebagai masukan dalam rangka meningkatkan pelayanan Kebidanan atau Asuhan Persalinan Normal Bidan terhadap klien atau pasien.
1.5.2 Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan informasi atau refrensi untuk bekal peserta didik yang dapat diperoleh di Perpustakaan Akademi Kebidanan
1.5.3 Bagi Peneliti
Agar kami dapat mengetahui pentingnya wawasan tentang Asuhan Persalinan Normal, terutama mengenai dampak negatif pada bidan yang belum melakukan pertolongan dengan Standar Asuhan Persalinan Normal serta sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Ahli Madya Kebidanan di Akademi Kebidanan
1.6 Ruang lingkup
Penelitian ini dapat mengetahui Gambaran pengetahuan bidan dalam pelaksanaan standar Asuhan Persalinan Normal ( APN ) di Kecamatan

silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN STANDAR ASUHAN PERSALINAN NORMAL

KLIK DIBAWAH 

Tingkat Pengetahuan Kader Posyandu tentang Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas


KTI SKRIPSI
TINGKAT PENGETAHUAN KADER POSYANDU TENTANG IMUNISASI DASAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

ABSTRAK

Indikator keberhasilan program imunisasi dikatakan berhasil jika cakupan target imunisasi mencapai target UCI ( Universal Child Imunization ) yakni 86 % balita telah di imunisasi. Dewasa ini, Desa yang mencapai cakupan imunisasi dasar lengkap diatas 80 % untuk anak di bawah 1 tahun baru sekitar 73 %. Rendahnya cakupan tersebut mungkin disebabkan kurangnya sosialisasi kegiatan imunisasi yang dilakukan kader di posyandu, termasuk dampak yang mungkin terjadi dan cara penanggulangannya. Meja penyuluhan banyak yang tidak berjalan karena kurangnya pengetahuan dan kepercayaan dini kader dalam melakukan penyuluhan. Sehingga masih ada ibu – ibu enggan membawa anaknya ke posyandu, selama ini tidak ada penjelasan tentang kemungkinan yang terjadi akibat imunisasi itu dan apa yang harus dilakukan jika kemungkinan itu terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan kader posyandu tentang imunisasi dasar secara umum serta mengetahui pengertian, macam, manfaat serta jadwal pemberian imunisasi dasar. Desain penelitian yang digunakan adalah diskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kader posyandu sejumlah 45 responden di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Kecamatan Kota. Instrumen yang digunakan adalah angket. Jumlah sampel sebesar 40 responden. Data yang diperoleh ditabulasi dengan memberi skor kemudian diprosentasikan, setelah itu dikelompokkan. Dari hasil penelitian didapatkan pengetahuan kader posyandu tentang imunisasi dasar dengan kriteria baik berjumlah 32 responden ( 80 % ), kriteria cukup 7 responden ( 17,5 % ), kriteria kurang 1 responden ( 2,5 % ) dan tidak ada responden dengan kriteria tidak baik.
Kata Kunci : Pengetahuan, kader posyandu dan imunisasi dasar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kader posyandu merupakan pilar utama penggerak pembangunan khususnya di bidang kesehatan (www.purwakarta.go.id). Mereka secara swadaya dilibatkan oleh puskesmas dalam kegiatan pelayanan kesehatan desa yang salah satunya adalah pemberian imunisasi Polio. Tanpa mereka kegiatan pelayanan kesehatan di desa tidak banyak artinya (Mardiati, 2006). Kader posyandu sebaiknya mampu menjadi pengelola posyandu, karena merekalah yang paling memahami masyarakat di wilayahnya (Dinkes.Prov. Jatim, 2006). Kader bertugas melaksanakan penyuluhan di posyandu, salah satunya penyuluhan tentang bayi / balita mengenai jadwal pemberian imunisasi dan manfaatnya (Dinkes.Prov.Jatim, 2005).
Upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai tingkat kekebalan masyarakat yang tinggi sehingga PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) dapat dibasmi, dieliminasi atau dikendalikan berdasarkan pada Kep. Menkes No. 161 1/Menkes/SK/XI/ 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi (Dinkes.Prov.Jatim, 2006).
Indikator keberhasilan program imunisasi dikatakan berhasil jika cakupan target imunisasi mencapai target UCI (Universal Child Imunization) yakni 86% balita telah diimunisasi (www.indomedia.com).

Dewasa ini, desa yang mencapai cakupan imunisasi dasar lengkap di atas 80% untuk anak di bawah 1 tahun baru sekitar 73% (Van, 2005). Rendahnya cakupan tersebut mungkin disebabkan kurangnya sosialisasi kegiatan imunisasi yang dilakukan kader di posyandu, termasuk dampak yang mungkin terjadi dan cara penanggulangannya (Ginting, 2005). Meja penyuluhan banyak yang tidak berjalan karena kurangnya pengetahuan dan kepercayaan diri kader dalam melakukan penyuluhan (www.gizikesmas.multiply.com). Sehingga masih ada ibu-ibu yang enggan membawa anaknya ke posyandu, selama ini tidak ada penjelasan tentang kemungkinan yang terjadi akibat imunisasi itu dan apa yang harus dilakukan jika kemungkinan itu terjadi (Ginting, 2005).
Berdasarkan data yang diperoleh di Pustu wilayah kerja Puskesmas periode Januari – Maret cakupan imunisasinya masih berada dibawah target yang telah ditentukan. Untuk imunisasi BCG cakupan yang diperoleh sebesar 10%, Hepatitis B uniject sebesar 9%, DPT¬Hb Combo I sebesar 13%, DPT-Hb Combo II sebesar 18%, Polio I sebesar 14%, Polio II sebesar 16%, Polio IV sebesar 17%, Campak 17%. Padahal target yang harus dipenuhi selama periode Januari – Maret untuk imunisasi BCG, DPT-Hb Combo I, Polio I adalah sebesar 22,5%, sedangkan untuk imunisasi DPT-Hb Combo II, Polio II, Polio IV dan Campak adalah sebesar 20%. Jumlah posyandu di wilayah kerja Pustu sebanyak 9 posyandu. Dari hasil studi pendahuluan juga disebutkan banyak KMS yang data imunisasinya masih kosong. Kebanyakan tugas yang dilakukan kader hanya pada penimbangan bayi saja, tanpa melakukan penyuluhan kepada ibu atau bayi mengenai imunisasi.
Dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk meneliti tingkat pengetahuan kader posyandu tentang imunisasi dasar.

1.2 Rumusan Masalah
Dengan latar belakang diatas, maka penulis ingin mengetahui seberapa besar tingkat pengetahuan kader posyandu tentang imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Kecamatan  Kota.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui tingkat pengetahuan kader posyandu tentang imunisasi dasar
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui pengetahuan kader posyandu tentang pengertian imunisasi dan imunisasi dasar.
1.3.2.2 Mengetahui pengetahuan kader posyandu tentang macam imunisasi dasar.
1.3.2.3 Mengetahui pengetahuan kader posyandu tentang manfaat imunisasi dasar.

1.3.2.4 Mengetahui pengetahuan kader posyandu tentang jadwal pemberian imunisasi dasar.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
1.4.1.1 Menambah wawasan bagi peneliti mengenai    tingkat
pengetahuan kader posyandu tentang imunisasi dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu  Kecamatan Kota
1.4.1.2 Mengembangkan    kemampuan    peneliti    dalam
mengaplikasikan pengetahuan tentang metode penelitian dalam masalah nyata yang ada dalam masyarakat
1.4.2 Bagi Tempat Penelitian
1.4.2.1 Sebagai gambaran informasi tentang tingkat pengetahuan kader posyandu tentang imunisasi dasar sehingga dapat digunakan untuk menentukan langkah selanjutnya.
1.4.2.2 Sebagai tambahan informasi bagi kader mengenai imunisasi dasar.

silahkan download KTI SKRIPSI
TINGKAT PENGETAHUAN KADER POSYANDU TENTANG IMUNISASI DASAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

KLIK DIBAWAH 

Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Risiko Tinggi tentang Pemeriksaan USG Kehamilan dI RSIA


KTI SKRIPSI
TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL RISIKO TINGGI TENTANG PEMERIKSAAN USG KEHAMILAN DI RSIA

ABSTRAK

Kehamilan merupakan proses reproduksi normal dan alamiah semua perlu perawatan agar ibu dan janin tetap dalam keadaan sehat. Kehamilan akan menghadapi berbagai permasalahan yang dapat mengganggu proses persalinan dikelompokkan kehamilan resiko tinggi. Apabila setiap abnormalitas dicurigai berdasarkan atas riwayat atau pemeriksaan fisik, maka pasien dirujuk ke pemeriksa dengan keahlian dalam ultrasonografi. Beberapa indikasi untuk USG yaitu evaluasi pertumbuhan janin, perdarahan antepartum, deteksi dini abnormalitas janin tertentu (letak, posisi dan presentasi janin). Penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan populasi 32 ibu hamil resiko tinggi di RSIA dilihat dari medical record, sampelnya adalah 20 ibu hamil resiko tinggi di RSIA dilihat dari medical record dengan teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan instrumen berupa kuesioner kemudian data ditabulasi kemudian dianalisa secara kualitatif. Hasil penelitian tanggal 13-20 juni didapatkan pengetahuan ibu tentang USG kehamilan ternyata sudah baik. Sesuai data dari 20 responden terdapat 3 kategori yaitu berpengetahuan baik 16 orang, berpengetahuan cukup 3 orang dan yang berpengetahuan kurang 1 orang.
Kata Kunci : Pengetahuan ibu Hamil Resiko Tinggi, Tentang Pemeriksaan USG


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kehamilan merupakan proses reproduksi normal dan alamiah. Seorang wanita disebut hamil jika mengandung janin dalam rahim karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002). Wanita hamil adalah manusia sehat yang mengalami beberapa perubahan (Adityawarman, 2002).
Kehamilan normal bisa memiliki risiko semua perlu perawatan agar ibu dan janin tetap dalam keadaan sehat. Sedangkan kehamilan akan menghadapi berbagai permasalahan yang dapat mengganggu proses persalinan. Kehamilan dengan masalah dikelompokkan kehamilan risiko tinggi yaitu keadaan yang dapat mempengaruhi optimalisasi ibu maupun janin (IBG Manuaba, 1998). Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan dengan satu lebih faktor risiko baik ibu maupun janinnya yang memberi dampak kurang menguntungkan baik ibu maupun janinnya (Poedji Rochjati, 2003). Apabila setiap abnormalitas dicurigai berdasarkan atas riwayat atau pemeriksaan fisik, maka pasien dirujuk ke pemeriksa dengan keahlian dalam ultrasonografi (Susan Martin Tucker, 2004).
USG Adalah visualisasi struktur dalam tubuh dengan merekam pantulan (gema) denyutan gelombang ultrasonik yang diarahkan ke jaringan tersebut (Kamus kedokteran Dorland, 2002). Semua tahap-tahap kehamilan dapat dilihat pertemuan dan perkembangan janin, salah satunya dengan ultrasonografi. Ultrasonografi mempunyai tingkat intensitas yang aman. Beberapa indikasi untuk utrasonografi yaitu evaluasi pertumbuhan janin, perdarahan antepartum, deteksi dini abnormalitas janin tertentu salah satunya konfirmasi tentang letak, posisi, dan bagian presentasi janin (Susan Martin Tucker, 2004).
Dari data yang diambil dari RSU USD Gambiran Kediri melalui medical record mulai bulan Januari sampai Maret 2008 diperoleh ibu hamil yang melakukan USG kehamilan 50 orang dengan 20 orang dengan perdarahan antepartum, 10 orang dengan kelainan letak dan 20 orang hanya ingin mengetahui jenis kelaminnya saja atas permintaan sendiri.
Dari data yang diambil di RSIA melalui medical record mulai bulan Januari – Maret 2008 diperoleh ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk oleh bidan dengan jumlah 47 orang dengan indikasi perdarahan antepartum 25 orang, kelainan letak 15 orang dan kehamilan serotinus 7 orang yang direkomendasikan untuk USG kehamilan, dan 37 orang yang periksa USG kehamilan atas keinginan sendiri mayoritas hanya ingin mengetahui jenis kelamin janinnya saja.
Melihat fenomena yang ada, peneliti tertarik untuk meneliti “Tingkat pengetahuan ibu hamil risiko tinggi tentang pemeriksaan USG kehamilan di RSIA”.

1.2. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah tingkat pengetahuan ibu hamil risiko tinggi tentang pemeriksaan USG kehamilan di RSIA?”

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil risiko tinggi tentang pemeriksaan USG kehamilan.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1 .Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil risiko tinggi tentang pengertian USG kehamilan.
1.3 .2.2.Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil risiko tinggi
tentang tujuan penggunaan USG kehamilan.
1.3.2.3 .Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil risiko tinggi tentang manfaat USG kehamilan.

1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap penelitian ini:
1.4.1. Bagi peneliti
Menambah wawasan mengenai tingkat pengetahuan ibu hamil risiko tinggi tentang pemeriksaan USG kehamilan.
1.4.2. Bagi Tempat Penelitian
Memberi informasi mengenai tingkat pengetahuan ibu hamil risiko tinggi tentang pemeriksaan USG kehamilan.
1.4.3. Bagi Institusi
Sebagai tambahan informasi yang dapat dikembangkan untuk penelitian selanjutnya, tentang minat ibu hamil risiko tinggi untuk melakukan pemeriksaan USG kehamilan pada kehamilannya.

silahkan download KTI SKRIPSI
TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL RISIKO TINGGI TENTANG PEMERIKSAAN USG KEHAMILAN DI RSIA

KLIK DIBAWAH 

Studi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III tentang Kolostrum Bagi Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas


KTI SKRIPSI
STUDI TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG KOLOSTRUM BAGI BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

ABSTRAK

Kolostrum adalah makanan terbaik untuk bayi. Kolostrum merupakan cairan jernih kekuningan yang dihasilkan oleh alveoli payudara ibu pada periode akhir atau trimester III kehamilan. Kolostrum dikeluarkan pada hari-hari pertama setelah kelahiran, sebaiknya kolostrum diberikan segera setelah bayi lahir. Tetapi didaerah pedesaan, pada umumnya mereka menganggap ASI yang keluar pada hari-hari pertama itu tidak baik untuk makanan bayi, sehingga mereka umumnya tidak memberikan kolostrum kepada bayinya. Oleh karena itu peneliti tertarik meneliti tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang kolostrum. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang pengertian kolo strum, manfaat kolostrum serta waktu dan cara pemberian kolostrum/ASI. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, sampel diambil dari ibu hamil trimester III yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas sebesar 15 orang. Pemilihan sampel dilakukan dengan accidental sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan dengan menggunakan alat ukur kuesioner.
Hasil penelitian didapatkan pengetahuan ibu hamil trimester III tentang kolostrum sebagian besar adalah cukup dengan persentase 53,33 %, sehingga pengetahuan ini perlu ditingkatkan lagi untuk mencapai hasil yang lebih baik, untuk itu perlu adanya kerjasama antara tenaga kesehatan dengan pihak-pihak yang terkait, salah satunya yaitu dengan meningkatkan informasi dan pengetahuan kepada ibu hamil trimester III tentang kolostrum dengan memberi penyuluhan kesehatan.
Kata kunci : Pengetahuan, Ibu Hamil Trimester III, Kolostrum

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Pada masa hamil, terjadi perubahan pada payudara, dimana ukuran payudara bertambah besar. Ini disebabkan proliferasi sel duktus laktiferus dan sel kelenjar pembuat ASI. Karena pengaruh hormon yang dibuat placenta yaitu laktogen, prolaktin kariogonadotropin, estrogen dan progesterone. Pembesaran juga disebabkan oleh bertambahnya pembuluh darah. Pada kehamilan lima bulan atau lebih, kadang-kadang dari ujung punting mulai keluar cairan yang disebut kolostrum. Sekresi cairan tersebut karena pengaruh hormon laktogen dari plasenta dan hormon prolaktin dari kelenjar hipofise (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005)
ASI dan kolostrum adalah makanan terbaik untuk bayi. Kolostrum merupakan cairan jernih kekuningan yang dihasilkan oleh alveoli payudara ibu pada periode akhir atau trimester ketiga kehamilan. Kolostrum dikeluarkan pada hari-hari pertama setelah kelahiran. Jumlah yang dihasilkan bervariasi antara 10-100 ml. Per hari dengan rata-rata 30 ml. Jumlah kolostrum akan bertambah dan mencapai komposisi ASI biasa / matur sekitar 3 – 14 hari. Dibandingkan dengan ASI biasa, kolostrum memiliki kandungan laktosa, lemak dan vitamin larut dalam air (vitamin B dan C) lebih rendah, tetapi memiliki kandungan protein, vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, K) dan beberapa mineral (seperti seng dan sodrum) yang lebih tinggi. kolostrum sangat sesuai untuk kapasitas pencernaan bayi dan sesuai dengan kemampuan ginjal bayi baru lahir yang belum mampu menerima makanan dalam volume besar (Mellyna Huliana, 2003).
Dalam waktu segera setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi agar mulai kontak dengan bayi (skin to skin contact) dan mulai menyusui bayi. Karena saat ini bayi dalam keadaan paling peka terhadap rangsangan, selanjutnya bayi akan mencari payudara ibu secara naluriah. Membantu kontak langsung ibu–bayi sedini mungkin untuk memberikan rasa aman dan kehangatan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005).
Pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, tidak jarang kita mendengar seorang ibu mengatakan, “Asi saya belum keluar.” Sebenarnya, meski ASI yang keluar pada hari tersebut sedikit menurut ukuran kita, tetapi volume kolostrum yang ada dalam payudara mendekati kapasitas lambung bayi yang berusia 1 – 2 hari. Air susu yang keluar pada hari pertama (kolostrum) ini mengandung zat anti-infeksi 10 – 17 kali lebih banyak dibanding ASI yang matang (Utami Roesli, 2000).
Di daerah pedesaan, pada umumnya ibu menyusui bayi mereka, namun karena jumlahnya sedikit dan berwarna bukan putih susu ini, sering kali ibu merasa ASInya belum keluar sehingga banyak ibu yang ragu untuk memberikan ASI pada bayinya, untuk itu ada penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kebiasaan yang kurang baik, seperti pemberian makanan pralaktal yaitu pemberian makanan / minuman untuk
menggantikan ASI apabila ASI belum keluar pada hari-hari pertama setelah kelahiran. Disamping itu masih banyak ibu-ibu tidak memanfaatkan kolostrum, karena mereka menganggap ASI yang keluar pada hari-hari pertama itu tidak baik untuk makanan bayi dan ada pula yang menganggap kolostrum itu adalah susu basi. Sehingga mereka membuang kolostrum tersebut. Mereka umumnya tidak mengerti bahwa ASI yang baru keluar itu sangat baik untuk bayinya (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005) (Luluk Lely Soraya, 2006).
Bayi yang diberi susu selain ASI segera setelah lahir mempunyai resiko 17 kali lebih besar mengalami diare dan 3 sampai 4 kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI segera setelah lahir (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2000).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, pada tanggal 31 Maret – 4 April 2008 di wilayah kerja Puskesmas Kota, ibu hamil yang berkunjung sebanyak 43 orang dengan ibu hamil trimester III sebanyak 20 orang, ditemukan 11 ibu yang tidak tahu tentang kolostrum. Dan data tersebut menunjukkan bahwa ibu yang tidak tahu tentang kolostrum sebanyak 55 % dan ibu yang tahu tentang kolostrum sebanyak 45 %, selain itu diketahui bahwa sebagian besar ibu yang datang bersama balitanya tidak memberikan kolostrum pada saat setelah dilahirkan.
Untuk itu perlu adanya peningkatan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, khususnya ibu hamil trimester III mengenai pentingnya kolostrum bagi bayi mereka. Penyuluhan ini dapat dilakukan melalui kegiatan posyandu oleh kader kesehatan ataupun menggunakan sarana media cetak atau elektronik sehingga pengetahuan ibu menjadi bertambah dan akhirnya dapat memberikan kolostrum pada bayi segera setelah lahir (Luluk Lely Soraya, 2006).
Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang pentingnya kolostrum bagi bayi. Oleh karena itu peneliti mengambil judul “Studi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III tentang Kolostrum.”

1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
“Bagaimana tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang kolostrum bagi bayi di wilayah kerja Puskesmas?”

1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang kolostrum.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil trimester III tentang pengertian kolostrum.
b. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil trimester III tentang manfaat kolostrum.

c. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil trimester III tentang waktu dan cara pemberian kolostrum/ASI.

1.4 MANFAAT PENELITIAN
Dalam penulisan ini penulis berharap bahwa hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi :
1.4.1 Bagi Peneliti
Untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan peneliti mengenai pengetahuan ibu hamil trimester III tentang kolostrum sehingga kemampuan peneliti dalam mengetahui sejauh mana pengetahuan ibu tentang kolostrum akan bertambah.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Sebagai salah satu sumber pengetahuan tentang manfaat kolostrum bagi bayi baru lahir. Sehingga masyarakat khususnya ibu hamil trimester III mengetahui dan mau memberikan kolostrum pada bayinya kelak setelah lahir.
1.4.3 Bagi Tempat Pelayanan
Sebagai salah satu masukan dalam pengambilan kebijaksanaan untuk meningkatkan mutu dalam pelayanan kesehatan terutama pentingnya pengetahuan ibu tentang kolostrum bagi bayi.

1.4.4 Bagi Institusi
Diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi penelitian selanjutnya tentang kesehatan ibu dan anak khususnya pentingnya pengetahuan ibu tentang kolostrum bagi bayi.

silahkan download KTI SKRIPSI
STUDI TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG KOLOSTRUM BAGI BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

KLIK DIBAWAH 

Perbedaan Minat untuk Melakukan Perawatan Payudara pada Ibu Nifas Primipara dan Multipara


KTI SKRIPSI
PERBEDAAN MINAT UNTUK MELAKUKAN PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU NIFAS PRIMIPARA DAN MULTIPARA

ABSTRAK

Bagi ibu primipara menyusui merupakan hal yang baru walaupun bukan hal yang baru lagi bagi ibu multipara. Studi pendahuluan yang dilakukan pada periode 18 – 25 Desember di Wilayah Kecamatan Wates pada ibu nifas primipara dan multipara yang telah melahirkan di BPS Ny. didapatkan dari 2 ibu primipara dan 2 ibu multipara. Setelah dilakukan kunjungan ulang pada hari ketujuh, dari 2 ibu primipara mengatakan sudah melakukan perawatan payudara dan 2 ibu multipara tidak melakukan perawatan payudara. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan apakah minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu primipara dan multipara memiliki perbedaan. Penelitian yang dilakukan pada tanggal 13 – 20 juli ini bertujuan untuk mengetahui gambaran minat ibu nifas primipara dan multipara serta menganalisis perbedaan minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu nifas primipara dan multipara. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik cross sectional, dengan populasi penelitian adalah ibu nifas primipara dan multipara hari ke 1-7 di Wilayah Puskesmas Wates Kabupaten Kediri. Data hasil penelitian diambil menggunakan kuesioner.Jumlah sampel yang diambil dengan sampling jenuh sebanyak 19 responden. Setelah itu ditabulasi dan dianalisis dengan menggunakan uji Fisher’s Exact dan hasilnya  = 0,0167. Jadi hasilnya  < dari  yang ditentukan (0,05) dapat ditarik kesimpulan ada perbedaan minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu nifas primipara dan multipara.
Kata kunci : Minat, Perawatan Payudara, Primipara, Multipara.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perawatan pasca persalinan (masa nifas) merupakan perawatan selama enam minggu atau 40 hari. Pada masa ini, ibu akan mengalami banyak hal. Ia mengalami perubahan fisik dan alat-alat reproduksi yang kembali ke keadaan sebelum hamil, masa laktasi (menyusui), maupun perubahan psikologi (Huliana, 2003). Pada masa nifas terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan personal hygiene, salah satunya adalah perawatan payudara. Perawatan yang dilakukan terhadap payudara bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga memperlancar pengeluaran ASI. Pelaksanaan perawatan payudara hendaknya dimulai sedini mungkin, yaitu 1-2 hari bayi dilahirkan dan dilakukan dua kali sehari (Huliana, 2003). Sayangnya, tidak semua perempuan bisa memahami dan menghayati kodratnya, entah karena pengetahuan yang kurang memadai atau tidak adanya minat yang berhubungan erat dengan pikiran dan perasaan (Heri P, 1998), payudara tak selalu dilihat sebagai perangkat untuk menyusui anaknya (Poernomo dkk, 2004).
Pada berbagai penelitian tentang ibu menyusui di Indonesia tahun 2005, terdapat faktor penting tentang perawatan payudara, dimana terdapat 115 ibu telah melahirkan keberhasilan menyusui terdapat pada kelompok ibu yang tidak melakukan perawatan payudara adalah 2 6,9%, ini sangat rendah jika dibandingkan dengan 98,1% keberhasilan menyusui pada kelompok ibu yang melakukan perawatan payudara (Suririnah, 2005).
Bagi ibu primipara menyusui merupakan hal yang baru walaupun bukan hal yang baru lagi bagi ibu multipara. Masih sering ditemuinya masalah seperti payudara bengkak, puting susu lecet atau nyeri atau luka, serta mastitis dan abses payudara. Dari masalah tersebut mungkin disebabkan dari posisi yang salah ketika menyusui, atau ibu tidak tahu bagaimana merawat payudara yang disertai dengan masalah pada payudara sehingga dapat berdampak kurang optimalnya pemberian ASI pada bayi, Karena itu untuk pencegahanya dapat dilakukan dengan perawatan dan menjaga kebersihan payudara (Poernomo dkk, 2004).
Berdasar studi pendahuluan  1 minggu pada ibu primipara dan multipara yang melahirkan di BPS Ny. Kecamatan -Kabupaten sebanyak 4 orang pada periode 18-25 Desember. Dari 4 orang terdiri dari 2 orang ibu primipara dan 2 orang ibu multipara, setelah dilakukan kunjungan ulang pada hari ke-7 dan setelah dilakukan pengkajian, dari 2 orang ibu primipara mengatakan sudah melakukan perawatan payudara setelah persalinan dan 2 orang ibu multipara mengatakan tidak melakukan perawatan payudara, serta satu diantara ibu multipara tersebut ditandai dengan masalah bendungan ASI pada payudaranya sehingga kurang optimal dalam memberikan ASI pada bayinya. Oleh karena itu peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai “Perbedaan minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu nifas primipara dan multipara”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah :
“Adakah perbedaan minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu nifas primipara dan multipara ?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbedaan minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu nifas primipara dan multipara.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengidentifikasi minat ibu nifas primipara untuk melakukan perawatan payudara.
1.3.2.2 Untuk mengidentifikasi minat ibu nifas multipara untuk melakukan perawatan payudara.
1.3.2.3 Untuk menganalisa perbedaan minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu nifas primipara dan multipara.

1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap penelitian ini.
1.4.1 Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan peneliti tentang perbedaan minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu nifas primipara dan multipara dan sebagai bahan masukan guna peningkatan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan untuk ibu nifas primipara dan multipara di lahan praktek.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Untuk digunakan sebagai bahan masukan penelitian selanjutnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya tentang faktor-faktor lain yang mempengaruhi perbedaan minat untuk melakukan perawatan payudara pada ibu nifas primipara dan multipara
1.4.3 Bagi Lahan Praktek
Untuk digunakan sebagai bahan masukan guna peningkatan pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan untuk ibu nifas primipara dan multipara.
1.4.4 Bagi Responden
Untuk menambah pengetahuan responden tentang pentingnya perawatan payudara pada ibu nifas sehingga dapat meningkatkan minat untuk melakukan perawatan payudara.

silahkan download KTI SKRIPSI
PERBEDAAN MINAT UNTUK MELAKUKAN PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU NIFAS PRIMIPARA DAN MULTIPARA

KLIK DIBAWAH 

Perbedaan Kecemasan pada Wanita Menopause Sebelum dan Sesudah Hipnoterapi di Desa


KTI SKRIPSI
PERBEDAAN KECEMASAN PADA WANITA MENOPAUSE SEBELUM DAN SESUDAH HIPNOTERAPI DI DESA

ABSTRAK

Menopause adalah haid terakhir yang dialami oleh wanita yang masih dipengaruhi oleh hormon reproduksi yang terjadi pada usia menjelang/memasuki usia lima puluh tahunan, pada masa ini banyak terjadi perubahan-perubahan pada diri wanita menopause, salah satunya adalah berhentinya siklus menstruasi yang dirasakan sebagai hilangnya sifat inti kewanitaannya karena sudah tidak dapat melahirkan anak lagi, Akibat lebih jauh adalah timbulnya perasaan tak berharga, tidak berarti dalam hidup. Perasaan itulah yang sering kali dirasakan wanita pada masa menopause, sehingga sering menimbulkan kecemasan. Terdapat beberapa penatalaksanaan untuk wanita menopause yang salah satunya adalah hipnoterapi guna menurunkan kecemasan pada wanita menopause yang bertujuan membuka kesadaran klien untuk mengetahui masalah utama sebagai dampak menopause dan membantu untuk menyembuhkan atau menerima kondisinya, lebih percaya diri dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi. Desain penelitian yang digunakan adalah one-group prettest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita menopause berusia 48-52 tahun yang ada di Desa Wilayah Kerja Kota. Dalam penelitian ini sampling yang digunakan adalah cluster sampling yang berarti pengelompokan sampel berdasarkan wilayah dengan jumlah sampel sebanyak 44 responden. Alat ukur yang digunakan adalah check list. Setelah data terkumpul dilakukan tabulasi dan analisa data. Dari penelitian ini didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa terjadi perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi dimana Zhitung > Ztable yaitu 5,09 > 1,96. Peneliti memberikan saran pada tenaga kesehatan untuk mau mempelajari hipnoterapi karena hipnoterapi dapat menurunkan kecemasan pada wanita menopause. Dan hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.
Kata Kunci : Perbedaan, Hipnoterapi, Menopause, Kecemasan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menopause bukanlah peristiwa yang terjadi secara mendadak. Ia merupakan proses yang berlangsung lama. Artinya, meskipun seorang perempuan mengalami haid yang berhenti sama sekali pada usia 50 tahun misalnya, ia mungkin sudah merasa bahwa siklus haidnya mulai berubah sejak ia berusia 40 tahun. Menstruasi itu benar–benar tidak datang lagi rata– rata seorang perempuan mencapai umur 50 tahun (dengan rentang antara 48 dan 52 tahun). Secara medis seorang perempuan akan dinyatakan sebagai “telah mengalami menopause“ jika selama setahun tidak pernah sama sekali haid lagi (Titi Irawati, 2007).
Berhentinya siklus menstruasi dirasakan sebagai hilangnya sifat inti kewanitaannya karena sudah tidak dapat melahirkan anak lagi. Akibat lebih jauh adalah timbulnya perasaan tak berharga, tidak berarti dalam hidup sehingga muncul rasa khawatir akan adanya kemungkinan bahwa orang¬orang yang dicintainya berpaling dan meninggalkannya. Perasaan itulah yang sering kali dirasakan wanita pada masa menopause, sehingga sering menimbulkan kecemasan (Admin Setyo P, 2008).
Menurut Fajar (2003), tidak ada angka pasti wanita menopause di Indonesia, tetapi diperkirakan sekitar 10% dari jumlah wanita. (Ika, 2003).
Menurut Kartono (1992) perubahan psikis yang terjadi pada masa menopause dapat menimbulkan sikap yang berbeda-beda, diantaranya yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simptom-simptom psikologis seperti depresi, mudah tersinggung, mudah menjadi marah, mudah curiga, diliputi banyak kecemasan, insomnia atau tidak bisa tidur, karena sangat bingung dan gelisah (Admin Setyo P, 2008).
Lebih kurang 70% wanita peri dan pascamenopause mengalami keluhan vasomotorik, depresif, dan keluhan psikis dan somatik lainnya. Berat atau ringannya keluhan berbeda-beda pada setiap wanita. Keluhan-keluhan tersebut mencapai puncaknya sebelum dan sesudah menopause, dan dengan meningkatnya usia, keluhan-keluhan tersebut makin jarang ditemukan. (Ali, 2003).
Berbagai cara penanganan dan pencegahan pada keluhan yang timbul pada menopause seperti pengaturan makanan, olah raga yang cukup, pemberian terapi hormon pengganti dan pengelolaan diri akan memberikan warna baru bagi seorang wanita dalam menjalankan kehidupannya. Dewasa ini pengelolaan diri sangatlah penting dalam pencapaian proses penyembuhan. Bentuk pengelolaan diri ini dapat ditempuh dengan banyak cara seperti berdoa, meditasi kesehatan dan yoga, termasuk di dalamnya adalah dengan menggunakan metode hipnosis/hipnoterapi (Stephanus P Nurdin, 2006).
Menurut Stepanus, dokter dari RSIA Budhi Jaya Jakarta Selatan (2006), perempuan menopause dapat menjalani hipno-menopause terapi.
Metode hipnoterapi modern dengan orientasi kepada pasien ini bertujuan membuka kesadaran klien untuk mengetahui masalah utama sebagai dampak menopause dan membantu untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dirinya sendiri. Pasien jadi merasa lebih nyaman dan dapat menerima kondisinya, lebih percaya diri, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari (Evy Rachmawati, 2006).
Dari hasil studi pendahuluan di Desa Wilayah Kerja Puskesmas pada tanggal 15 April  didapatkan jumlah wanita menopause yang datang saat posyandu lansia sebanyak 19 orang dan 7 diantaranya memperhatikan perubahan penampilan pada dirinya. Perubahan penampilan itu sendiri merupakan faktor penyebab kecemasan. Dari data di atas, peneliti ingin mengetahui adakah perbedaan tingkat kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi di Desa Wilayah Kerja Puskesmas Kota.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
Adakah perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.    Mengidentifikasi kecemasan pada wanita menopause sebelum hipnoterapi.
2.    Mengidentifikasi kecemasan pada wanita menopause sesudah hipnoterapi.
3.    Menganalisa perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan tentang perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi.
1.4.2 Bagi Responden
Menambah pengetahuan wanita menopause tentang adanya hipnoterapi yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan pada wanita menopause.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
Memberikan informasi adanya teknik hipnoterapi yang dapat digunakan untuk penatalaksanaan pada wanita menopause.
1.4.4 Bagi Institusi
Menambah pemahaman dosen dan mahasiswa Prodi Kebidanan Kediri tentang perbedaan kecemasan pada wanita menopause sebelum dan sesudah hipnoterapi, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

silahkan download KTI SKRIPSI
PERBEDAAN KECEMASAN PADA WANITA MENOPAUSE SEBELUM DAN SESUDAH HIPNOTERAPI DI DESA

KLIK DIBAWAH 

Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah Pemberian Metode ANB (Terapi Persalinan Relaks, Nyaman Dan Aman) pada Inpartu Kala I Fase Aktif Persalinan


KTI SKRIPSI
PERBEDAAN INTENSITAS NYERI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN METODE ANB (TERAPI PERSALINAN RELAKS, NYAMAN DAN AMAN) PADA INPARTU KALA I FASE AKTIF PERSALINAN

ABSTRAK

Dari data rujukan pasien bersalin ke Rumah sakit di Indonesia, ternyata masih banyak ibu bersalin yang tidak tahan terhadap rasa nyeri persalinan. Pada tahun 2002 di RS Dr Pringadi Medan misalnya jumlah rujukan ibu bersalin yang tidak tahan terhadap nyeri sebanyak 3 5,7% dari jumlah ibu bersalin sebanyak 375 Sedangkan pada tahun 2008 untuk periode bulan Pebruari saja di RSUD Gambiran Kediri jumlah rujukan ibu bersalin yang tidak tahan terhadap nyeri sebesar 35% dari 51 ibu bersalin . Metode anb merupakan salah satu metode penanganan nyeri nonfarmakologis untuk ibu bersalin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode anb (terapi persalinan relaks, nyaman dan aman) pada inpartu kala I fase aktif persalinan. Desain penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimental. Sampel yang dipilih adalah ibu bersalin kala I fase aktif di BPS Siti. Teknik sampling yang digunakan adalah cosecutive sampling. Jumlah sampel adalah 7 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang diisi oleh peneliti. Analisa data menggunakan rumus Wilcoxon dengan signifikansi 5 %. Hasil yang didapatkan menunjukkan t tabel > t hitung yaitu 2 > 0 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode anb (terapi persalinan relaks, nyaman dan aman) pada inpartu kala I fase aktif persalinan. Saran bagi institusi pada penelitian selanjutnya dapat diarahkan pada faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat nyeri.
Kata kunci: Inpartu, Metode anb, Nyeri,

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Saat melahirkan sering kali menakutkan bagi sebagian perempuan hamil. Kekhawatiran akan kondisi ibu dan bayi kerap menjadi momok menjelang melahirkan. Ditambah lagi rumor yang mengatakan bahwa melahirkan itu sangat sakit, membuat rasa takut pada ibu hamil menjadi besar. Sehingga tidak aneh jika kontraksi yang merupakan tanda-tanda melahirkan sangat ditakuti ibu. Rasa sakit yang teramat sangat semakin membuat ibu lebih takut dan stres. Akibatnya, proses melahirkan menjadi lebih lama dan sulit karena ibu sudah meletakkan suatu pendapat pada otaknya bahwa proses melahirkan itu sangat sakit. Cara berfikir seperti inilah yang harus diubah.(Admin, 2009)
Rasa sakit yang dialami ibu tersebut merupakan konsekwensi logis dari efek kontraksi otot rahim yang disebabkan peregangan dan iskhemia serta dilatasi ( pelebaran ) dari mulut rahim ( cervic uteri ) selama kontraksi. Dalam tinjauan kepustakaan, hingga kini satu-satunya manfaat nyeri persalinan yang diketahui hanyalah sebagai alarm saja, sedangkan nyeri dalam proses bersalin lebih memberi dampak negatif secara fisiologis maupun psikologis bagi seorang ibu. Bagi sebagian ibu, nyeri ini dapat menimbulkan respon klinis yang beragam seperti rasa cemas, takut, peningkatan plasma kortisol dan konsentrasi hormon katekolamin hingga peningkatan kebutuhan oksigen hingga 14 %. (Ade Hasman, 2008)

Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat 70 % sampai 80 % wanita yang melahirkan mengharapkan persalinan berlangsung tanpa rasa nyeri. Berbagai cara dilakukan agar ibu melahirkan tidak selalu merasa nyeri dan merasa nyaman. Saat ini 20 % hingga 50 % persalinan di rumah sakit swasta dilakukan dengan operasi caesar. Tingginya operasi caesar disebabkan para ibu yang hendak bersalin lebih memilih operasi yang relatif tidak nyeri. Di Brazil angka ini mencapai lebih dari 50 % dari angka kelahiran disuatu rumah sakit yang merupakan presentase tertinggi di seluruh dunia. ( Admin, 2007 )
Di RS Dr Pringadi Medan ditemui kasus rujukan yang dirujuk oleh bidan sebanyak 375 kasus yang terdiri dari partus tidak maju dan nyeri hebat 134 orang (35,7%), pre-eklampsia berat atau eklampsi 75 orang (20%), perdarahan antepartum 36 orang (9,6 %), perdarahan pasca persalinan 38 orang (10,1 %), kehamilan ektopik terganggu 3 orang ( 0,8 % ), abortus 86 orang (22,9%), dan infeksi puerperalis 3 orang (0,8 %). (Abraham Siregar, 2002)
Sedangkan di kota Kediri sendiri, yaitu di RSUUSD Gambiran dari 51 jumlah persalinan yang dirujuk oleh bidan pada periode bulan Pebruari 2009 didapatkan data 29 persalinan secara spontan pervaginam, dengan perincian kasus PEB sebanyak 4 orang (13 %), partus lama 2 orang (6 %), KPP 2 orang (6%), letak sungsang 2 orang (6%), primitua sekunder disertai nyeri persalinan yang hebat 15 orang (51%), asma 1 orang (3%), eklampsi 1 orang (3%), placenta praevia 1 orang (3%), PER 1 orang (3%), kemudian dari 6 persalinan dengan vacum extraksi diperoleh perincian persalinan dengan kasus CPD 1 orang (16%), partus lama 1 orang (16%), post date 1 orang (16%), nyeri persalinan 1 orang (16%), PEB 1 orang (16%), KPP 1 orang (16%). Untuk persalinan dengan sectio caesarea didapatkan perincian 2 persalinan dengan indikasi letak sungsang (12%), CPD disertai KPP 2 orang (12%), terdapat luka bekas SC 1 orang (6%), APB 3 orang (18%), grande multipara 1 orang (6%), kala I fase aktif memanjang 1 orang (6%), letak lintang 1 orang (6%), PEB 3orang (18%) tidak tahan terhadap rasa nyeri persalinan 2 orang (12%) . ( Rekapan Data Persalinan RSUUSD Gambiran Kediri, 2009 ).
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan di dua BPS ( Bidan Praktek Swasta) di wilayah kerja Puskesmas Sukorame tercatat di BPS pertama yaitu BPS Eni Sukorame untuk periode tahun 2007 tercatat dari 38 persalinan terdapat 2 % persalinan yang dirujuk dengan kasus partus lama dan 2 % dengan alasan tidak tahan terhadap rasa nyeri persalinan. Sedangkan untuk periode tahun 2008 tercatat dari 38 persalinan terdapat 2 % persalinan yang dirujuk dengan kasus pre-eklampsi, 2 % dengan kasus CPD, 5 % dengan kasus KPD, dan 2 % dengan alasan tidak tahan terhadap rasa nyeri persalinan. Kemudian untuk data dari BPS kedua yaitu BPS Kurniawati desa Bandar lor untuk periode tahun 2008, tercatat dari 17 persalinan terdapat 5 % persalinan yang dirujuk dengan kasus post date, 5 % dengan kasus letak sungsang, 5 % dengan kasus hipertensi dan 5 % berikutnya dengan alasan tidak tahan terhadap rasa nyeri persalinan. Berdasarkan data tersebut diatas kita dapat melihat dengan jelas bahwa nyeri persalinan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran berlangsungnya proses persalinan. Walaupun sebenarnya nyeri persalinan merupakan hal yang fisiologis. ( Data laporan persalinan BPS, 2008).
Berbagai tindakan dapat dilakukan untuk meringankan nyeri yang dirasakan oleh ibu bersalin, untuk mencegah terjadinya komplikasi persalinan yang secara umum dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu dengan cara farmakologis dan nonfarmakologis. Metode anb merupakan salah satu metode penanganan nyeri non farmakologis yang dapat diterapkan pada ibu bersalin.
Metode anb merupakan metode pengkondisian mental dan fisik dengan cepat, sehingga paling sesuai digunakan saat ibu sedang melakukan proses persalinan diruang bersalin, mulai kondisi pembukaan satu. Saat itu ibu sering diliputi kecemasan, ketakutan dan ketegangan. ( Agung Nugroho, 2008 ). Namun hingga saat ini metode anb masih belum terbiasa digunakan dalam penatalaksanaan persalinan normal pada ibu inpartu. Padahal seperti kita ketahui dengan menggunakan metode ini dimungkinkan ibu lebih menikmati proses persalinan. Seperti yang diungkapkan oleh Agung Nugroho dalam penelitiannya dalam upaya penurunan nyeri kala I persalinan pada metode anb ( terapi persalinan relaks, nyaman, dan aman) didapatkan kemungkinan calon ibu dapat menikmati proses kelahiran yang aman, lembut, dan cepat. ( Agung Nugroho, 2008 )
Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di BPS Siti Kelurahan Kecamatan Kabupaten belum dilakukan manajemen nyeri persalinan secara khusus untuk mengontrol nyeri selama kala I. Berdasarkan hal tersebut diatas peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode anb (terapi persalinan relaks, nyaman dan aman) pada inpartu kala I fase aktif persalinan di BPS Siti Kelurahan Kecamatan Kota.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut diatas maka dirumuskan masalah sebagai berikut “ Adakah perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode anb (terapi persalinan relaks, nyaman dan aman) pada inpartu kala I fase aktif persalinan?”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode anb (terapi persalinan relaks, nyaman dan aman) pada inpartu kala I fase aktif persalinan
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi intensitas nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif sebelum dilakukan intervensi.
1.3.2.2 Mengidentifikasi intensitas nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif setelah dilakukan intervensi.

1.3.2.3 Menganalisa perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode anb (terapi persalinan relaks, nyaman dan aman) pada inpartu kala I fase aktif persalinan.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai bahan tambahan wawasan mengenai perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode anb (terapi persalinan relaks, nyaman dan aman) pada inpartu kala I fase aktif persalinan.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan tambahan pengetahuan dan informasi serta pengembangan penelitian selanjutnya yang berkaitan tentang perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian metode anb (terapi persalinan relaks, nyaman dan aman) pada inpartu kala I fase aktif persalinan.
1.4.3 Bagi Institusi Lahan Penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi tempat penelitian untuk peningkatan pelayanan kesehatan.

silahkan download KTI SKRIPSI
PERBEDAAN INTENSITAS NYERI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN METODE ANB (TERAPI PERSALINAN RELAKS, NYAMAN DAN AMAN) PADA INPARTU KALA I FASE AKTIF PERSALINAN

KLIK DIBAWAH 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 252 pengikut lainnya.