Hemoglobin Ibu Hamil

Hemoglobin Ibu Hamil:

Kehamilan memicu perubahan-perubahan fisiologis yang sering mengaburkan diagnosis sejumlah kelainan hematologis serta pengkajiannya. Hal ini terutama berlaku  pada  anemia.  Salah  satu  perubahan  yang  paling  bermakna  adalah ekspansi volume darah dengan peningkatan volume plasma yang tidak sepadan sehingga hematokrit biasanya menuru (Cunningham dkk, 2005).
Berdasarkan data penelitian Scott (1967) dan Pritchard (1967), tentang konsentrasi hemoglobin pada 85 wanita sehat yang terbukti memiliki cadangan besi, maka  anemia pada wanita tidak hamil didefenisikan sebagai konsentrasi hemoglobin yang kurang dari 12 g/dl dan kurang dari 10 g/dl selama kehamilan atau  masa  nifas.  Konsentrasi  hemoglobin  lebih   rendah  pada  pertengahan kehamilan.   Pada   awal   kehamilan   dan   kembali   menjelang   aterm,   kadar hemoglobin pada sebagian besar wanita sehat yang memiliki cadangan besi adalah 11 g/dl atau lebih. Atas alasan tersebut, Centers for Disease Control (1990)  mendefenisikan anemia sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama  dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Cunningham dkk, 2005). Menurut Manuaba (1998), anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan  zat besi, jenis anemia yang pengobatannya relatif mudah, bahkan murah. Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahteraan social ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia ibu hamil disebut “potensial  danger  to  mother  and  child”  (potensial  membahayakan  ibu  dan anak), karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada lini kedepan. Kadar Hemoglobin (Hb) ibu sangat mempengaruhi berat bayi yang akan dilahirkan. Ibu   hamil  yang  anemia  karena  Hbnya  rendah  bukan  hanya membahayakan jiwa ibu tetapi juga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan  serta  membahayakan  jiwa  janin.  Hal  ini  disebabkan  karena kurangnya suplai nutrisi dan  oksigen pada placenta yang akan berpengaruh pada fungsi placenta terhadap janin.
Ibu Hamil Trimester III
Menurut Cunningham (2005), kehamilan dibagi menjadi tiga trimester setara yang  masing-masing berlangsung selama 3 bulan kalender. Trimester ketiga mencakup minggu ke-29 sampai ke-42 kehamilan. Pada  tahap  trimester  III  terjadi  petumbuhan  janin  yang  sangat  cepat dibanding trimester sebelumnya. Maka kekurangan makanan dalam periode ini dapat menghambat  pertumbuhannya hingga bayi dilahirkan dengan berat dan panjang yang kurang daripada seharusnya (Pudjiadi, 1990). Pada ibu hamil terjadi penurunan kadar Hb karena penambahan cairan tubuh  yang  tidak  sebanding dengan  massa  sel  darah  merah.  Penurunan  ini terjadi mulai sejak usia  kehamilan 8 minggu sampai 32 minggu. Selain itu anemia kehamilan juga dapat disebabkan  karena berkurangnya cadangan besi untuk kebutuhan janin (Pudjiadi, 1990).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s