Hubungan Pengetahuan Remaja Usia 17-20 Tahun tentang Kesehatan Reproduksi terhadap Sikap Berpacaran Sehat

KTI SKRIPSI
HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA USIA 17-20 TAHUN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP SIKAP BERPACARAN SEHAT

ABSTRAK

Interaksi sosial dengan teman sebaya yang diwujudkan dalam bentuk pacaran merupakan tahapan perkembangan yang akan dilalui remaja. Interaksi sosial ini dapat memunculkan informasi global yang dapat mengancam terwujudnya remaja yang sehat dan berkualitas. Oleh sebab itu, pengetahuan dan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi penting dilakukan agar tidak menjadikan remaja mempunyai sikap dan prilaku yang melenceng mengenai pacaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Remaja Usia 17 – 20 Tahun Tentang Kesehatan Reproduksi Terhadap Sikap Berpacaran Sehat di Kelas III. Penelitian ini dilaksanakan tanggal 19 Juli. Desain penelitian yang digunakan adalah Analitik Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja di Kelas III SMK 2 yang berusia 17 – 20 tahun sejumlah 223 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah “Simple Random Sampling” sehingga dapat diperoleh sampel sebanyak 143 orang. Terdapat 2 variabel yaitu variabel bebas adalah pengetahuan remaja usia 17 – 20 tahun tentang kesehatan reproduksi, dan variabel tergantungnya adalah sikap berpacaran sehat. Variabel diukur dalam waktu bersamaan dengan instrumen penelitian menggunakan angket. Data yang diperoleh ditabulasi lalu dianalisa dengan menggunakan Chi Square dengan derajat kebebasannya 5%. Sehingga hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan remaja usia 17 – 20 tahun tentang kesehatan reproduksi terhadap sikap berpacaran sehat di kelas III.
KATA KUNCI    : PENGETAHUAN, REMAJA, KESEHATAN REPRODUKSI, SIKAP, BERPACARAN SEHAT.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu menjelang masa dewasa muda. Berdasarkan kematangan psikoseksual dan seksual, remaja akan melewati tahapan remaja awal ( 11-13 tahun ), remaja pertengahan ( 14-16 tahun ), dan remaja lanjut ( 17-20 tahun ). Pada tahap remaja lanjut ini, remaja sudah mengalami perkembangan seperti orang dewasa. Mereka mempunyai perilaku seksual yang sudah jelas dan mereka mulai mengembangkannya dalam bentuk pacaran (Soetjiningsih, 2004). Berpacaran merupakan wujud dari interaksi sosial yang begitu kuat sebagai akibat dari pergaulannya dengan teman sebaya maupun masyarakat luas. Adanya interaksi sosial tersebut dapat memunculkan informasi global yang dapat mengancam terwujudnya remaja yang sehat dan berkualitas (PKBI, 1999). Oleh sebab itu remaja sebagai calon orang tua dan generasi penerus perlu dibekali dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi agar mereka memiliki pengetahuan yang benar tentang sistem fungsi dan proses reproduksi manusia sehinggga kelak mereka secara bertanggung jawab dapat mempunyai keturunan yang sehat, cerdas, produktif dan mandiri. (Departemen Kesehatan RI dan WHO,1999)
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial secara utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi. (Departemen Kesehatan RI dan WHO, 2000). Konsep tentang kesehatan reproduksi harus dimengerti oleh remaja agar tidak menimbulkan masalah-masalah kesehatan reproduksi misalnya , kehamilan remaja akibat hubungan seksual diluar nikah, HIV / AIDS, PMS dll. Menurut survei SKRRI 2002- 2003, pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi masih relatif rendah. Untuk usia 15-24 tahun pengetahuan laki laki hanya 46,1% dan pengetahuan perempuan hanya sekitar 43,1%. Menurut Baseline survei 1999, diketahui hanya 55% remaja yang mengetahui proses kehamilan dengan benar, 42% mengetahui tentang HIV/ AIDS dan hanya 24% mengetahui tentng PMS, minimnya informasi remaja tersebut menimbulkan berbagai persoalan dikalangan remaja, mulai dari soal narkoba, HIV/AIDS, sampai hubungan seks pra nikah. (Beasiswa Indonesia, 2006)
Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi yang terbatas, seringkali mempengaruhi sikap dan perilaku remaja dalam berpacaran. Pada remaja yang berpacaran terdapat proses mengenal dan memahami lawan jenisnya dan belajar membina hubungan dengan lawan jenis, namun kebanyakan remaja salah mengartikan makna dari pacaran tersebut bahkan melenceng dari yang sebenarnya. Pacaran diperluas dengan interpretasi masing-masing bahkan tidak menjurus pada pacaran yang sehat. Pacaran sehat mempunyai arti pacaran yang terbebas dari segala bentuk kekerasan fisik ( termasuk biologis), kekerasan emosi dan pemaksaan atau penodaan fisik misalnya mencium, bercumbu dan berhubungan intim (Didik Hermawan, 2007). Hal-hal yang ditabukan remaja pada beberapa tahun yang lalu seperti berciuman dan bercumbu dalam berpacaran sekarang dibenarkan oleh remaja. Menurut penelitian Rita Damayanti di Jakarta ada beberapa remaja yang menyatakan bahwa berhubungan seks boleh saja dilakukan dengan pasangan asal disertai suka sama suka, ada yang tidak keberatan dengan pacaran saling berpegangan, saling berpelukan dan saling berciuman. Beberapa alasan antara lain adanya tekanan dari teman sebaya bahwa ciuman merupakan pambuktian cinta, sang pacar memaksa karena teman-temannya yang lain sudah pernah ciuman kemudian ingin tahu rasanya, terdapatnya nafsu, dan longgarnya control social (PKBI, 1999).
Dari data yang diperoleh dari tanya jawab di SMK 2 dari 13 orang siswa kelas III mempunyai pacar dan mereka membenarkan bahwa berciuman,berpegangan tangan dan berpelukan perlu dilakukan saat berpacaran. Mereka juga mengatakan belum pernah mendapatkan pelajaran atau informasi tentang kesehatan reproduksi. Maka saya tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Hubungan Pengetahuan Remaja Usia 17-20 tahun tentang Kesehatan Reproduksi terhadap Sikap berpacaran Sehat di kelas III SMK 2”.

1.2. Rumusan masalah
“Adakah Hubungan antara Pengetahuan Remaja Usia 17-20 tahun tentang Kesehatan Reproduksi terhadap Sikap berpacaran Sehat di Kelas III SMK 2?”

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan remaja usia 17-20 tahun tentang kesehatan reproduksi terhadap sikap berpacaran sehat di Kelas III SMK 2.
1.3.2. Tujuan khusus
1.    Untuk mengetahui pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi.
2.    Untuk mengetahui bagaimana sikap para remaja usia 17-20 tahun mengenai berpacaran sehat.
3.    Untuk menganalisa hubungan antara pegetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi terhadap sikap berpacaran sehat.

1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi Peneliti
Dapat menerapkan teori riset kebidanan tentang kesehatan reproduksi dan sikap tentang berpacaran sehat.
1.4.2. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi SMK 2 mengenai pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan sikap remaja tentang pacaran sehat.
1.4.3. Bagi Institusi
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan bacaan / informasi bagi mahasiswa untuk penelitian selanjutnya.
1.4.4. Bagi Reponden
Sebagai bahan evaluasi diri bagi responden tentang pengetahuannya mengenai kesehatan reproduksi dan pacaran sehat.

silahkan download KTI SKRIPSI
HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA USIA 17-20 TAHUN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP SIKAP BERPACARAN SEHAT

KLIK DIBAWAH 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s