Hubungan Tingkat Pendidikan Suami dengan Pengetahuan Suami tentang Kontrasepsi Mantap Pria

KTI SKRIPSI
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN SUAMI DENGAN PENGETAHUAN SUAMI TENTANG KONTRASEPSI MANTAP PRIA

ABSTRAK

Peran suami sangat penting dalam menentukan keputusan tentang kesejahteraan keluarga, termasuk menentukan jumlah anak. Rendahnya pengetahuan tentang KB pria termasuk faktor sosial, budaya dan agama, termasuk pendidikan, dapat mempengaruhi keterbatasan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan suami dengan pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria di Dusun. Dalam penelitian ini menggunakan desain korelasi dengan pendekatan survey analitik cross sectional, untuk mendapatkan sampel digunakan teknik Quota Sample, dimana jumlah sampelnya adalah 63 orang. Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan suami sebagai variabel independen dan tingkat pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria sebagai variabel dependennya. Hasil penelitian menunjukkan dari 63 responden, 34 orang diantaranya berpendidikan SD/SMP, 23 orang berpendidikan SMA dan 6 orang berpendidikan PT. Dengan angket sebagai prosedur pengumpulan data, didapatlkan bahwa pengetahuan penduduk Dusun masih relatif kurang, hal ini ditunjukkan dengan jumlah prosentase 41 %. Dengan teknik uji korelasi Spearman, dengan taraf signifikan 5 %, didapatkan bahwa z 0 > z α yaitu 5,5877 > 1,96, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan suami dengan pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh Puskesmas untuk tetap melaksanakan dan lebih meningkatkan pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria melalui berbagai kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat yang berkesinambungan dengan metode penyuluhan yang beragam, yang bisa diterima oleh masyarakat.
Kata kunci : tingkat pendidikan, pengetahuan, kontrasepsi mantap pria, suami.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada saat ini keluarga berencana (KB) telah dikenal hampir di seluruh dunia. Di negara maju, keluarga berencana bukan lagi merupakan suatu program atau gagasan, tetapi telah merupakan falsafah hidup masyarakatnya. Sedangkan di negara-negara berkembang, keluarga berencana masih harus terus ditingkatkan (Rustam Mochtar. 1998 : 249).
Tujuan umum keluarga berencana adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara mengatur kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya (Rustam Mochtar. 1998 : 252).
Dalam usaha untuk meningkatkan pemeriksaan gerakan keluarga berencana nasional, peranan pria sebenarnya sangat penting dan menentukan. Sebagai kepala keluarga, pria merupakan tulang punggung keluarga dan selalu terlibat untuk mengambil keputusan tentang kesejahteraan keluarga, termasuk untuk menentukan jumlah anak yang diinginkan (IBG Manuaba. 1998 : 478).
Namun dalam kenyataannya, KB lebih banyak diikuti kaum perempuan. Angka partisipasi kaum pria dalam menyukseskan program KB masih sangat rendah, jumlah pria yang menggunakan alat kontrasepsi sekitar 2,7 % (BKKBN, 2005), dan di Bali yang menjalani operasi vasektomi tercatat 0,5 %. (BKKBN Propinsi Bali, 2005). Sementara menurut data BKKBN Kota tahun 2005, jumlah pria yang menjalani operasi vasektomi hanya 0,24 %. Berdasarkan Praktek Kerja Lapangan Periode 10-29 Maret 2008 di Desa Nambaan terdapat 895 PUS. Dari kesekian PUS hanya 4 orang yang menggunakan kondom dan yang menggunakan kontrasepsi mantap pria tidak ada.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2003 jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas yang tamat SLTP juga hanya 36,21% sedangkan yang masih buta huruf sebanyak 9,07% (Suarakarya_online). Di Desa tercatat bahwa dari 4121 jiwa penduduk, 1150 jiwa penduduk adalah berpendidikan terakhir SD. Dari jumlah tersebut, 364 orang diantaranya adalah suami yang berpendidikan terakhir SD.
Beberapa tantangan yang menghadang adalah keterbatasan informasi dan aksebilitas terhadap pelayanan KB pria, rendahnya pengetahuan tentang KB dan kesehatan reproduksi pria, dan rumor yang berkembang di masyarakat tentang KB pria (khususnya vasektomi). Belum lagi ditambah masalah sosial, budaya dan agama. (Pelita. 2003) Sementara itu, menurut Siswosudarmo (2001: 5), faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah umur, daerah (desa/kota), pendidikan dan pekerjaan, agama, motivasi, adat istiadat, dan tidak kalah pentingnya sifat yang ada pada cara KB tersebut.
Menurut Gumiarti, dkk, (2002), tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi penerimaan dan pemahaman terhadap suatu objek atau materi yang dimanifestasikan dalam bentuk pengetahuan. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang akan mempengaruhi tingkat penguasaan terhadap materi yang harus dikuasai sesuai dengan tujuan dan sasaran.
Berdasarkan data dan paparan di atas, penulis tertarik untuk mengetahui apakah terdapat Hubungan Tingkat Pendidikan Suami dengan Pengetahuan Suami tentang Kontrasepsi Mantap Pria.

1.2 Rumusan Masalah
Sesuai latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut “Apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan suami dengan pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria di Dusun ?”

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan suami dengan pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria di Dusun.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi tingkat pendidikan suami.
1.3.2.2 Mengidentifikasi pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria.
1.3.2.3 Menganalisa hubungan tingkat pendidikan suami dengan pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria.

1.4 Manfaat
1. 4.1 Manfaat Bagi Penulis
Dengan adanya penelitian ini, penulis dapat mengetahui hubungan tingkat pendidikan suami dengan pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria, sehingga bisa menambah pengalaman bagi penulis untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat di lapangan nantinya.
1. 4.2 Manfaat Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pengetahuan suami tentang kontrasepsi mantap pria.
1. 4.3 Manfaat Bagi Institusi

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah informasi bagi mahasiswa agar dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya.

silahkan download KTI SKRIPSI
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN SUAMI DENGAN PENGETAHUAN SUAMI TENTANG KONTRASEPSI MANTAP PRIA

KLIK DIBAWAH 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s