Perbedaan Pengetahuan Ibu tentang Penanganan Diare pada Balita di Rumah Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan

KTI SKRIPSI
PERBEDAAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENANGANAN DIARE PADA BALITA DI RUMAH SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PENDIDIKAN KESEHATAN

ABSTRAK

Pendidikan kesehatan tentang penanganan diare pada Balita di rumah sangat diperlukan sehingga ketidaktepatan dalam penanganan diare pada Balita di rumah dapat dicegah. Setiap orang tua perlu diberi penjelasan tentang penyebab diare, gej ala diare, cara penularan diare, pencegahan, bahkan bagaimana cara penanganannya di rumah sehingga angka kesakitan dan kematian akibat diare dapat dihindari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang penanganan diare pada Balita di rumah terhadap pengetahuan ibu. Desain penelitian yang digunakan adalah pra-pasca test dalam satu kelompok (One Group Pra-Test Post-Test), sampelnya adalah ibu yang mempunyai Balita anak pertama di Desa Paron. Teknik sampling menggunakan simple random sampling, alat ukur berupa kuesioner, dan teknik analisa data menggunakan rumus wilcoxon. Hasil penelitian dari 45 responden didapatkan bahwa rata-rata pengetahuan ibu sebelum dilakukan pendidikan kesehatan adalah 6,8 dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan 9,7.Dan setelah melalui analisa data ternyata didapatkan Z hitung > Z tabel, hal ini berarti ada perbedaan pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada Balita di rumah sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan.
Kata kunci: Pendidikan kesehatan, diare

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita ( bayi dibawah lima tahun) terbesar didunia (Ridwan Amirudin, 2007). Istilah atau pemahaman tentang penyakit diare dimasyarakat Jawa Timur beragam, antara lain “mencret-mencret” atau “mejen”, atau pada balita biasa disebut “ngenteng-entengi”. Bila ditinjau kegawatannya, pada umumnya menganggap bahwa diare merupakan penyakit biasa-biasa saja. Pada umumnya masyarakat kita menganggap remeh penyakit ini, sehingga sering kali berakibat fatal dalam hal penanganan penderita, hal ini diakibatkan oleh karena penerapan prinsip-prinsip rehidrasi seawal mungkin belum dilaksanakan oleh masyarakat sehingga terjadi keterlambatan tindakan rehidrasi yang dapat memperparah kesakitan, bahkan dapat mengakibatkan kematian (Unik P dkk, 2005).
Menurut catatan Unicef, setiap detik satu balita meninggal karena diare. Diare sering kali dianggap penyakit sepele, padahal ditingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut Sukernas (2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya karena diare (Satria Perwira, 2008). Di Jawa Timur, data penyakit diare berdasarkan laporan yang direkam oleh Depkes RI tahun 2000 ditemukan angka kesakitan diare untuk semua umur di Jawa Timur adalah 283 per 1000 penduduk, sedangkan episode pada balita 1,3 kali pertahun (Unik P Dkk, 2005). Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Jawa Timur dr. Suliani Suwadji kepada ELSHINTA menyebutkan, data Dinkes menunjukkan dalam bulan terakhir jumlah balita yang terserang diare sedikitnya sebanyak 1.700 balita (Vryan Surya, 2006).
Beberapa penelitian melaporkan sebanyak 40% berkurangnya masukan makanan/minuman pada kejadian diare disebabkan karena kebiasaan yang salah dari orang tua yaitu menghentikan semua jenis makanan/ minuman selama anak diare dengan maksud mengistirahatkan usus sehingga diare akan berkurang bahkan berhenti (FKUI, 2000: 285). Anak yang menderita diare biasanya juga menderita anoreksia, sehingga masukan nutrisinya menjadi kurang. Kekurangan kebutuhan nutrisi akan bertambah jika pasien juga menderita muntah-muntah atau diare lama, keadaan ini menyebabkan makin menurunnya daya tahan tubuh sehingga penyembuhan tidak lekas tercapai, bahkan dapat timbul komplikasi (Ngastiyah, 2005: 150).
Upaya penurunan angka diare dilakukan dengan memanfaatkan semua sumber daya khususnya unsur manusia meliputi upaya penemuan dan pengobatan secara dini, peningkatan kesehatan dengan melibatkan unsur sektoral, penyuluhan kesehatan berperilaku sehat, memasyarakatkan penggunaan garam oralit, peningkatan jangkauan pelayanan lebih mantap melalui Posyandu, peningkatan kualitas lingkungan dengan penyediaan air bersih dan sarana jamban keluarga (Bachtiar Ashari, 2008).

Merawat balita memang tidak semudah yang dipikirkan banyak orang. Apalagi, bagi para orang tua baru dimana dalam hal ini ibu yang mempunyai balita anak pertama. Banyak informasi dan pengetahuan yang harus digali (Tanaya Vidia Maharani, 2007).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Paron wilayah kerja Puskemas Ngasem Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri dengan wawancara pada keluarga yang kebetulan memeriksakan balitanya yang diare, beberapa diantaranya saat diwawancara mengatakan saat di rumah mereka menghentikan asupan cairan pada balitanya. Ada pula yang mengatakan balitanya diberikan teh kental yang sangat manis dengan alasan untuk menguragi rasa pahit yang dikeluhkan oleh balitanya. Bahkan ada beberapa keluarga yang tidak tahu dimana mereka bisa mendapatkan Oralit selain dari bidan setempat. Selain itu, di sana juga belum pernah disosialisasikan oleh kader maupun bidan bagaimana cara penanganan diare pada balita di rumah.
Sehingga berdasarkan uraian latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbedaan pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada balita dirumah sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

”Adakah perbedaan pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada balita di rumah sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada balita di rumah sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada balita di rumah sebelum dilakukan pendidikan kesehatan
1.3.2.2 Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada balita di rumah sesudah dilakukan pendidikan kesehatan
1.3.2.3 Menganalisa perbedaan pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada balita di rumah sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan

1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman peneliti tentang pendidikan kesehatan mengenai penanganan diare pada balita di rumah dan dapat dijadikan bekal di lapangan dalam memberikan pendidikan kesehatan.
1.4.2 Bagi Bidan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk melaksanakan penyuluhan dalam upaya meningkatkan pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada balita di rumah.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan data dan memberikan sumbangan pemikiran pengembangan ilmu pengetahuan untuk peneliti selanjutnya tentang diare.

silahkan download KTI SKRIPSI
PERBEDAAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENANGANAN DIARE PADA BALITA DI RUMAH SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PENDIDIKAN KESEHATAN

KLIK DIBAWAH 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s